Indonesia Masuk 10 Besar Wisata Satwa Liar Terbaik Dunia, Badak Jawa dan Orang Utan Jadi Andalan

salma
salma 5 Min Read
dok. cnnindonesia.com

Indonesia kembali mendapat sorotan di panggung pariwisata dunia. Dua pengalaman wisata berbasis satwa liar di Tanah Air berhasil masuk dalam jajaran 10 besar destinasi wisata satwa liar terbaik dunia versi Wildlife Experience Index.

Ekspedisi penelusuran Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, serta pengalaman mengamati Orang Utan di hutan Kalimantan menjadi dua destinasi Indonesia yang mendapat penilaian tinggi dalam indeks tersebut.

Indeks yang dirilis perusahaan perjalanan Bailey Robinson dan dikutip dari Euronews, Selasa (1/9/2026), memuat 30 pengalaman interaksi satwa liar paling menarik di berbagai belahan dunia. Pemeringkatan tersebut tidak hanya melihat keberadaan satwa, tetapi juga mempertimbangkan kualitas pengalaman wisata yang ditawarkan.

Badak Jawa Masuk Peringkat Lima Dunia

Dalam daftar tersebut, pengalaman pelacakan Badak Jawa di Banten menempati posisi kelima dengan skor 85 dari 100. Capaian ini menjadi salah satu pencapaian penting bagi wisata konservasi Indonesia, mengingat Badak Jawa merupakan satwa langka yang habitatnya sangat terbatas.

Taman Nasional Ujung Kulon menjadi kawasan penting bagi keberlangsungan spesies tersebut. Wisatawan yang mengikuti pengalaman ini tidak sekadar mendapatkan kesempatan melihat satwa liar, tetapi juga memahami lingkungan dan upaya konservasi yang dilakukan untuk menjaga keberadaannya.

Sementara itu, pengalaman pelacakan Orang Utan di Kalimantan menempati posisi kedelapan dengan skor 84 dari 100. Keberadaan dua destinasi Indonesia dalam daftar tersebut memperlihatkan besarnya potensi wisata berbasis konservasi yang dimiliki Tanah Air.

Penilaian Wildlife Experience Index menggunakan enam indikator utama, yakni kelangkaan satwa, keterpencilan lokasi, nilai konservasi, eksklusivitas, aksesibilitas, serta peluang wisatawan untuk berjumpa dengan satwa.

Setiap indikator memperoleh bobot maksimal 10 poin yang kemudian diolah menjadi skor akhir dengan standar 100.

Trekking Gorila Jadi yang Teratas

Posisi pertama ditempati pengalaman trekking Gorila Gunung di Rwanda dan Uganda dengan skor 90 dari 100. Destinasi tersebut mendapatkan nilai sempurna dalam indikator peluang perjumpaan dengan satwa.

Ketatnya regulasi kuota wisatawan serta pendampingan pemandu profesional menjadi salah satu faktor yang mendukung tingginya nilai pengalaman tersebut.

Di posisi kedua terdapat ekspedisi Penguin Kaisar di Antarktika dengan skor 88,5. Selanjutnya, pengamatan Antelop Saiga di Kazakhstan berada di peringkat ketiga dengan skor 87.

Peringkat keempat ditempati pelacakan Macan Tutul Salju di kawasan Ladakh dan Himalaya dengan skor 85,5. Setelah Badak Jawa di peringkat kelima, terdapat pelacakan Badak Hitam di Namibia dan Kenya dengan skor 84,5.

Ekspedisi Beruang Kutub di Svalbard berada di posisi ketujuh dengan skor 84, sama dengan pelacakan Orang Utan di Kalimantan yang menempati peringkat kedelapan.

Sementara itu, ekspedisi Gorila Dataran Rendah Timur di Republik Demokratik Kongo berada di peringkat kesembilan dengan skor 81,5. Posisi ke-10 ditempati safari Anjing Liar Afrika di Botswana dan Tanzania dengan skor 81.

Kelangkaan dan Konservasi Jadi Daya Tarik

Direktur Penjualan Bailey Robinson, Sarah Parker, mengatakan daya tarik utama wisata satwa liar berkaitan erat dengan kelangkaan spesies dan lokasi habitatnya.

“Bagi kami, kemewahan yang sebenarnya adalah kesempatan untuk mengalami sesuatu yang langka dan bermakna, sambil bepergian secara bertanggung jawab serta mendukung kawasan dan proyek konservasi yang membuat perjumpaan ini bisa terjadi,” ujar Parker.

Pernyataan tersebut menggambarkan perubahan arah wisata alam yang kini tidak semata-mata mengejar hiburan. Pengalaman melihat satwa liar semakin dikaitkan dengan nilai edukasi, keberlanjutan, serta dukungan terhadap upaya pelestarian habitat.

Bagi Indonesia, masuknya Badak Jawa dan Orang Utan dalam daftar tersebut dapat menjadi peluang untuk memperkenalkan wisata konservasi kepada wisatawan mancanegara. Kedua satwa tersebut memiliki karakteristik unik sekaligus menjadi bagian penting dari kekayaan biodiversitas Indonesia.

Potensi Wisata Konservasi Indonesia

Keberhasilan dua destinasi Indonesia dalam Wildlife Experience Index juga menunjukkan bahwa wisata berbasis alam memiliki ruang pengembangan yang luas. Pengalaman menjelajah habitat satwa langka dapat menjadi daya tarik tersendiri apabila dikelola dengan memperhatikan kelestarian lingkungan.

Taman Nasional Ujung Kulon dan kawasan habitat Orang Utan di Kalimantan bukan hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga memberikan pengalaman untuk mengenal kehidupan satwa dan pentingnya menjaga ekosistem.

Dengan pengelolaan yang bertanggung jawab, wisata konservasi dapat menghadirkan manfaat ganda. Wisatawan memperoleh pengalaman yang berkesan, sementara kawasan dan proyek konservasi mendapatkan dukungan untuk terus menjaga keberadaan satwa liar.

Masuknya dua destinasi Indonesia dalam 10 besar dunia menjadi sinyal positif bahwa kekayaan alam Tanah Air memiliki daya tarik global. Tantangannya kini adalah memastikan popularitas tersebut tetap berjalan seiring dengan perlindungan habitat dan keberlanjutan kehidupan satwa.

Share This Article