Destinasiindonesia.com |-Moda transportasi canggih kembali mewarnai konektivitas regional Asia Tenggara. Kali ini, Batam bersiap menyambut kehadiran hovercraft AirFish, sebuah moda transportasi berteknologi tinggi yang direncanakan melayani rute Singapura–Batam mulai akhir 2026. Kehadiran transportasi ini dinilai mampu memberikan warna baru bagi sektor pariwisata sekaligus memperkuat posisi Batam sebagai destinasi unggulan bagi wisatawan mancanegara, khususnya turis asal Singapura.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam menyambut positif rencana pengoperasian AirFish tersebut. Kepala Disbudpar Batam, Ardiwinata, menilai moda transportasi ini bukan sekadar alternatif perjalanan lintas negara, melainkan juga daya tarik baru yang dapat meningkatkan minat kunjungan wisatawan.
“Ini sebenarnya sudah lama dibicarakan. Sekarang mulai mengerucut dan informasinya akan segera beroperasi. Dari sisi pariwisata, ini tentu sangat mendukung,” kata Kepala Disbudpar Batam Ardiwinata, yang dikutip Sabtu (7/2/2026).
Menurut Ardiwinata, wacana pengoperasian transportasi udara-laut ini bukanlah hal baru. Pembahasan terkait proyek tersebut telah berlangsung sejak sekitar tahun 2020 dan melibatkan berbagai pihak strategis. Diskusi dilakukan antara Kementerian Perhubungan, Badan Pengusahaan (BP) Batam, serta Pemerintah Kota Batam. Pada masa awal pembahasan, konsep yang digagas bahkan masih dikenal dengan istilah ‘seaplane’ sebelum akhirnya berkembang menjadi hovercraft AirFish seperti yang direncanakan saat ini.
Hovercraft AirFish dijadwalkan mulai beroperasi pada paruh kedua tahun 2026. Rute yang akan dilayani adalah Singapura–Batam dengan titik keberangkatan dari Tanah Merah Ferry Terminal, salah satu terminal penting di Singapura yang selama ini menjadi pintu utama pergerakan wisatawan menuju Batam. Dengan rute ini, AirFish diharapkan dapat melengkapi layanan feri konvensional yang sudah lebih dulu beroperasi.
Layanan AirFish akan dijalankan oleh ST Engineering AirX, sebuah perusahaan hasil kolaborasi antara ST Engineering dan startup asal Singapura, Peluca. Dalam operasionalnya, AirFish juga menggandeng operator feri BatamFast yang sudah berpengalaman melayani jalur lintas negara. Kolaborasi ini dinilai menjadi kombinasi ideal antara teknologi, inovasi, dan pengalaman operasional di lapangan.
Dari sisi kapasitas dan waktu tempuh, AirFish menawarkan keunggulan yang cukup signifikan. Dengan kapasitas delapan penumpang dan dua kru, AirFish Voyager mampu menempuh perjalanan Singapura–Batam dalam waktu sekitar 25 menit. Waktu tempuh ini jauh lebih singkat dibandingkan feri konvensional yang rata-rata memerlukan waktu sekitar 45 menit. Efisiensi waktu tersebut menjadi nilai tambah, terutama bagi wisatawan bisnis maupun pelancong singkat yang mengutamakan kecepatan dan kenyamanan.
Ardiwinata menilai kehadiran AirFish berpotensi besar menjadi amenitas sekaligus moda transportasi baru yang memperkuat aksesibilitas Batam. Dalam konsep pengembangan pariwisata, aksesibilitas merupakan faktor krusial yang menentukan kemudahan wisatawan untuk mencapai suatu destinasi.
“Yang perlu ditinjau mungkin dari sisi perizinan dan ketentuan internasional. Tapi secara prinsip, ini sangat baik untuk Batam. Akses adalah salah satu dari 5A pariwisata, dan ini menjawab kebutuhan itu,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dari sisi infrastruktur, pengoperasian hovercraft ini tidak memerlukan pembangunan besar-besaran. Dermaga yang dibutuhkan dapat memanfaatkan fasilitas yang telah tersedia, sehingga tidak menimbulkan beban pembangunan yang rumit maupun memakan waktu lama.
“Untuk dermaga bisa memakai yang sudah ada, jadi pembangunan tidak sulit,” katanya.
Keunggulan lain dari AirFish adalah kemampuannya untuk meningkatkan daya saing Batam sebagai destinasi wisata dan pusat kegiatan bisnis. Dengan waktu tempuh yang lebih singkat, Batam menjadi semakin menarik bagi wisatawan Singapura yang ingin melakukan perjalanan singkat, baik untuk liburan akhir pekan, urusan bisnis, maupun kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition).
Ardiwinata juga menegaskan bahwa kajian terhadap pengoperasian AirFish di Batam telah dilakukan sebelumnya. Bahkan, uji coba sempat dilaksanakan dan menunjukkan bahwa wilayah Batam sangat layak untuk mendukung operasional moda transportasi tersebut.
“Kajian untuk ini pasti sudah ada. Dulu juga pernah ada uji coba dan Batam sangat layak untuk mengoperasikan ini. Ini menambah kekuatan Batam sebagai kota pariwisata,” ungkap Ardiwinata.
Dengan berbagai potensi tersebut, hovercraft AirFish tidak hanya dipandang sebagai alat transportasi, tetapi juga sebagai simbol kemajuan dan inovasi konektivitas Batam. Jika seluruh aspek perizinan dan regulasi internasional dapat diselesaikan dengan baik, kehadiran AirFish diyakini akan menjadi langkah strategis dalam memperkuat posisi Batam di peta pariwisata regional.
Ke depan, AirFish diharapkan mampu menjadi pemicu lahirnya inovasi transportasi lain serta membuka peluang kerja sama lintas sektor. Bagi Batam, kehadiran moda transportasi modern ini menjadi sinyal kuat bahwa kota ini terus berbenah, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan siap bersaing sebagai destinasi pariwisata kelas internasional.