Antara Nostalgia dan Realita, Tiga Kuliner Jogja yang Tak Lagi Sederhana

salma
salma 6 Min Read
dok. mojok.co

Destinasiindonesia.com |-Beberapa titik kuliner Jogja pernah menjadi latar penting dalam fase “masa muda” saya. Di tempat-tempat sederhana itulah, keputusan besar kerap lahir—bukan dari ruang rapat berpendingin udara, melainkan dari tikar lesehan, secangkir kopi panas, dan obrolan panjang yang tak terasa hingga menjelang subuh. Ada yang menyebutnya kebetulan. Namun bagi saya, titik-titik kuliner Jogja itu seperti memiliki ruang hening tersendiri—ruang yang memberi kesempatan untuk berpikir pelan, jernih, dan tanpa tekanan.

Angkringan, warung kopi, hingga warung makan khas, dulu terasa begitu akrab. Ia seperti ruang netral: siapa saja boleh datang, duduk, dan merasa memiliki. Tak peduli status sosial maupun isi dompet. Semua orang berhak “merasa memiliki”. Tempat-tempat itu bukan hanya soal makanan, tetapi juga tentang perasaan diterima. Tentang ruang untuk menepi sebentar dari hiruk-pikuk hidup.

Namun, waktu berjalan. Jogja berubah. Beberapa titik kuliner yang dulu terasa merakyat, kini seperti memiliki jarak. Jika dulu orang bisa datang tanpa alasan, sekadar ingin duduk lama dan berpikir, sekarang rasanya perlu “alasan khusus” untuk berkunjung. Entah karena antrean panjang, harga yang naik, atau suasana yang tak lagi sederhana. Berikut tiga kuliner Jogja yang menurut saya tak lagi merakyat—atau setidaknya, tak lagi seakrab dulu.

Angkringan Kopi Jos, Teman Menepi Semasa SMA

Saya tidak tahu secara pasti. Namun, angkringan kopi jos, saat masih membuka lapak di samping utara Stasiun Tugu, besar karena mitos. Katanya, kopi hitam dengan tambahan bara arang bisa mengusir masuk angin. Sebuah mitos yang mungkin tidak akurat. Namun, minimal, membuatnya menjadi jujugan anak muda pada zamannya.

Saat masih SMA, ketika alkohol sedang tak ada janji untuk mampir, saya dan beberapa teman suka berlama-lama di angkringan kopi jos. Kami suka duduk lesehan di seberang lapak kopi jos. Yang kami lakukan sebatas ngobrol. Para remaja tanggung yang saat itu belum tahu mau ngapain dalam hidup.

Di tempat itulah, saya pernah mengambil keputusan penting soal masa depan. Saya sendiri mengambil keputusan soal mau kuliah atau tidak di salah satu kuliner Jogja favorit ini. Salah satunya, saya memutuskan kuliah Sastra Indonesia, alih-alih menuruti mau bapak untuk mengambil Pendidikan Bahasa Inggris. Keputusan itu lahir di antara gelas kopi dan bara arang yang perlahan mendingin.

Kini, angkringan kopi jos sudah pindah tempat. Geser beberapa meter ke seberang jalan. PT KAI melakukan relokasi demi keindahan, mungkin. Sejak saat itu, kopi jos menjadi kuliner Jogja jujugan wisatawan lebih ramai lagi. Nongkrong lama-lama di sana sudah tak senikmat dulu. Ruang untuk duduk lama terasa menyempit, bukan secara fisik, melainkan secara suasana.

Kopi Klotok, Kuliner Jogja yang Dulu Sangat Bersahaja

Saya resmi menjadi redaktur Mojok pada 2018. Sepulangnya dari Jakarta, saya berkantor di daerah Mbesi, Jalan Kaliurang kilometer 13. Salah satu kesukaan kami waktu itu adalah ngopi pagi di Kopi Klotok, daerah Pakem. Saat budaya “ngopag” belum sepopuler sekarang, kami sudah melakukannya di Kopi Klotok.

Kru Mojok generasi 2017/2018 cukup sering menghabiskan waktu di salah satu titik kuliner Jogja paling hype saat ini. Cukup secangkir kopi, air putih, dan pisang goreng. Kami ngopi pagi dari pukul 7:30 sampai sekitar pukul 10. Kami anggap ini sebagai pemanasan sebelum bekerja. Suasananya sederhana. Tak perlu foto-foto, tak perlu unggahan Instagram. Datang, duduk, minum kopi, selesai.

Namun, seiring waktu, dan kalian para pembaca pasti tahu, Kopi Klotok menjadi begitu istimewa. Kekuatan media sosial menjadi salah satu pemicu ramainya Kopi Klotok. Seakan-akan, kalau belum ikut mengantre di Kopi Klotok, belum sah dan paripurna menikmati kuliner Jogja.

Sekarang, warga lokal saja rada enggan kalau diajak ke Kopi Klotok. Malas dengan antre adalah alasan pertama. Dan kini, soal harga, menjadi alasan kedua. Kuliner Jogja satu ini tak lagi bersahaja. Ia menjadi objek wisata dengan harga dan vibes khusus. Seakan-akan, dan sekali lagi, kalau mau berkunjung harus punya alasan tertentu.

Gudeg, Kuliner Jogja yang Bisa Memancing Perdebatan

Inilah kuliner Jogja yang, menurut saya, paling bisa memancing perdebatan. Tema besarnya adalah, apakah gudeg memang makanan mahal?

Kita semua tahu kalau gudeg awalnya kuliner rakyat jelata. Lantaran tidak mampu membeli daging, rakyat zaman dulu mengolah nangka muda sebagai gantinya. Sudah begitu, gudeg adalah makanan yang awet. Oleh sebab itu, rakyat jelata zaman dulu bisa berhemat.

Namun, seiring zaman, gudeg menjadi kuliner Jogja yang eksotis. Semua kalangan, termasuk papan atas, menjadikannya santapan. Dan, wisatawan menyematkan label “oleh-oleh khas”. Maka, secara otomatis, gudeg menjadi kuliner Jogja yang naik kelas. Baik dari sisi bahan, sampai harga. Kalau gudeg premium, pasti mahal. Begitu adanya.

Begitulah, gudeg tak lagi merakyat. Apalagi setelah muncul cluster premium. Apalagi sekarang sudah ada gudeg kalengan juga.

Pada akhirnya, perubahan adalah keniscayaan. Jogja tumbuh, wisata berkembang, ekonomi bergerak. Namun, di balik semua itu, ada rasa kehilangan yang sulit dijelaskan. Begitula, tiga titik kuliner Jogja yang tak lagi merakyat. Ia menjadi konsumsi kelas tertentu dan hanya bisa dinikmati di kondisi tertentu. Seiring zaman, terkadang, rakyat jelata akan kehilangan banyak hal. Salah satunya soal kuliner yang sebelumnya menjadi eskapisme mereka terhadap terjalnya kehidupan.

Mungkin yang hilang bukan sekadar harga murah atau bangku lesehan. Melainkan rasa memiliki—perasaan bahwa tempat itu adalah rumah kecil bagi siapa saja yang ingin berhenti sejenak dan menyusun ulang hidupnya.

Share This Article