Destinasiindonesia.com – Menjelang datangnya bulan suci ramadan, denyut kehidupan di Kota Hujan perlahan berubah. Bukan hanya ritme ibadah yang mulai terasa, tetapi juga tradisi masyarakat yang kembali hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu tradisi yang masih dijaga hingga kini adalah cucurak, momen kebersamaan yang sarat makna sebagai penanda kebahagiaan menyambut ramadan. Di tengah banyaknya pilihan tempat wisata dan ruang publik, Kebun Raya Bogor tetap berdiri sebagai destinasi utama yang tak lekang oleh waktu.
Setiap menjelang ramadan, kawasan hijau di jantung kota ini seakan memiliki magnet tersendiri. Hamparan rumput yang luas, pepohonan tua yang menjulang, serta udara sejuk khas Bogor menjadi latar sempurna untuk berkumpul bersama keluarga, sahabat, maupun komunitas. Tidak mengherankan jika Kebun Raya Bogor kembali menjadi pilihan favorit masyarakat untuk menghabiskan waktu liburan singkat sekaligus melaksanakan tradisi cucurak.
Tradisi cucurak sendiri memiliki makna yang dalam. Lebih dari sekadar makan bersama, cucurak menjadi simbol rasa syukur, kebersamaan, dan upaya mempererat tali silaturahmi sebelum memasuki bulan penuh ibadah. Biasanya, keluarga atau kelompok datang membawa bekal dari rumah, lalu menggelarnya di atas tikar sederhana. Suasana hangat pun tercipta ketika aneka hidangan disantap bersama sambil berbincang santai.
Menurut General Manager Corporate Communication PT Mitra Natura Raya, Zaenal Arifin, geliat tradisi ini sudah mulai terlihat sejak beberapa hari lalu. Ia mengungkapkan bahwa sejak Kamis (12/2), pengunjung yang datang khusus untuk melaksanakan cucurak menjelang ramadan sudah mulai berdatangan, meskipun jumlahnya belum terlalu besar.
“Pantauan sejak Kamis kemarin, pengunjung yang datang untuk cucurak menjelang puasa memang sudah ada, tetapi belum banyak,” ujar Zaenal Arifin kepada JPNN.com pada Minggu (15/2).
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa tradisi cucurak bukanlah fenomena dadakan. Kehadirannya tumbuh secara bertahap, mengikuti kesiapan waktu dan kondisi masyarakat. Meski belum membludak, peningkatan jumlah pengunjung sudah mulai terasa. Zaenal menyebutkan bahwa terjadi kenaikan kunjungan sekitar 15 persen dibandingkan hari biasa atau weekday.
Dalam kondisi normal, pada hari kerja jumlah kunjungan reguler ke Kebun Raya Bogor rata-rata mencapai 2.000 orang per hari. Angka tersebut menjadi gambaran bahwa kawasan ini memang memiliki daya tarik kuat, bahkan di luar musim liburan. Ketika tradisi cucurak mulai digelar, angka kunjungan pun menunjukkan tren peningkatan, meskipun belum mencapai puncaknya.
Zaenal berharap, dalam satu hingga dua hari menjelang ramadan, jumlah keluarga maupun komunitas yang datang untuk melaksanakan cucurak dapat meningkat secara signifikan. Harapan ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, lonjakan pengunjung biasanya terjadi mendekati hari pertama puasa, ketika masyarakat mulai benar-benar merasakan atmosfer ramadan.
Namun demikian, ia juga mengakui bahwa ada faktor eksternal yang sulit dikendalikan, salah satunya adalah kondisi cuaca. Sebagai kota yang dikenal dengan curah hujan tinggi, Bogor kerap menghadapi tantangan cuaca, terutama pada musim penghujan. Hujan yang turun hampir setiap hari tentu memengaruhi rencana masyarakat untuk berwisata atau menggelar acara di ruang terbuka.
Menurut Zaenal, curah hujan di Kota Bogor yang cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir berpengaruh terhadap tingkat kunjungan wisatawan ke Kebun Raya Bogor. Banyak keluarga yang akhirnya memilih menunda rencana cucurak demi menghindari risiko hujan deras, meskipun keinginan untuk berkumpul tetap ada.
Meski demikian, kondisi cuaca tidak sepenuhnya memudarkan pesona Kebun Raya Bogor. Justru, bagi sebagian orang, hujan ringan dan udara sejuk menjadi bagian dari pengalaman tersendiri. Aroma tanah basah, dedaunan yang segar, serta suasana yang lebih tenang kerap membuat momen kebersamaan terasa semakin intim dan berkesan.
Kebun Raya Bogor selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Kota Bogor, terutama menjelang bulan suci ramadan. Lokasinya yang strategis, mudah diakses, serta memiliki nilai historis dan edukatif menjadikannya ruang publik yang inklusif bagi berbagai kalangan. Dari anak-anak hingga lansia, semua dapat menikmati suasana alam yang ditawarkan.
Menjelang ramadan, fungsi Kebun Raya Bogor pun seolah meluas. Tidak hanya sebagai tempat wisata, kawasan ini menjadi ruang sosial tempat masyarakat merayakan kebersamaan. Di sinilah keluarga besar berkumpul, sahabat lama bertemu kembali, dan komunitas menjalin keakraban sebelum memasuki masa ibadah yang lebih intens.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ruang hijau perkotaan memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Kebun Raya Bogor bukan sekadar taman botani dengan koleksi tanaman langka, tetapi juga ruang budaya tempat tradisi hidup dan berkembang. Cucurak menjadi contoh nyata bagaimana ruang publik dapat menjadi wadah pelestarian nilai-nilai lokal.
Di tengah modernisasi dan gaya hidup yang serba cepat, tradisi cucurak menawarkan jeda. Ia mengajak masyarakat untuk berhenti sejenak, duduk bersama, berbagi cerita, dan menikmati makanan sederhana. Kebun Raya Bogor, dengan segala keindahan alaminya, menyediakan panggung yang ideal untuk momen-momen semacam ini.
Ke depan, pengelola berharap tradisi cucurak di Kebun Raya Bogor dapat terus berjalan seiring dengan upaya menjaga kenyamanan dan kelestarian lingkungan. Peningkatan kunjungan tentu perlu diimbangi dengan kesadaran pengunjung untuk menjaga kebersihan dan ketertiban. Dengan demikian, kawasan ini dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang.
Pada akhirnya, cerita tentang cucurak di Kebun Raya Bogor bukan hanya tentang angka kunjungan atau persentase peningkatan wisatawan. Ia adalah kisah tentang manusia, tradisi, dan ruang yang mempertemukan keduanya. Menjelang ramadan, ketika hati mulai dipersiapkan untuk menyambut bulan suci, Kebun Raya Bogor kembali menjadi saksi bisu kebahagiaan sederhana yang lahir dari kebersamaan.