Balai Buntar Jadi Magnet Kuliner Ramadan di Kota Bengkulu

salwa
salwa 9 Min Read
dok.rri.co.id

Destinasiindonesia.com – Suasana Ramadan di kawasan Balai Buntar, Kota Bengkulu, tampak semakin semarak dengan hadirnya pusat kuliner musiman yang ramai dikunjungi warga menjelang waktu berbuka puasa. Sejak pertengahan sore, kawasan yang biasanya identik dengan aktivitas olahraga dan lalu lintas santai warga itu berubah menjadi lautan manusia. Deretan tenda berwarna-warni berdiri rapi, aroma gorengan dan kuah santan menguar di udara, sementara suara tawar-menawar bercampur dengan tawa anak-anak yang tak sabar menunggu waktu berbuka.

Area tersebut dipadati puluhan lapak pedagang yang menawarkan beragam menu takjil hingga makanan berat, sehingga menjadi salah satu destinasi favorit masyarakat untuk berburu hidangan berbuka. Mulai dari kolak pisang, es buah, gorengan hangat, sate, hingga aneka minuman segar, semua tersaji dalam satu hamparan ruang yang sama. Tak heran jika setiap sore, kendaraan roda dua dan roda empat memadati area parkir, dan pengunjung harus berjalan perlahan menyusuri keramaian.

Di antara deretan lapak itu, salah satu yang cukup mencuri perhatian adalah milik Neneng, pedagang caramel cheesecake puding. Di atas meja jualannya, deretan cup puding tersusun rapi dengan lapisan karamel yang mengilap di bagian atas. Warna cokelat keemasan berpadu dengan putih lembut di bawahnya, terlihat menggoda di tengah cuaca sore yang hangat.

Neneng mengatakan penjualannya meningkat selama Ramadan dibandingkan hari biasa. Kondisi ini didukung lokasi yang strategis serta jumlah pengunjung yang terus bertambah setiap harinya. Ia merasakan betul perbedaan suasana antara hari biasa dan bulan suci. Jika sebelumnya pembeli datang bergantian dalam jumlah terbatas, kini hampir setiap beberapa menit ada saja yang berhenti untuk melihat, bertanya, lalu membeli.

Ia mulai berjualan sejak pukul 15.00 WIB dan mencatat puncak kunjungan sekitar pukul 17.00 WIB. Setelah itu, aktivitas jual beli perlahan menurun hingga akhirnya berakhir saat azan magrib berkumandang, menandai waktu berbuka puasa bagi para pengunjung.

“Penjualan saya meningkat selama Ramadan dibandingkan hari biasa karena lokasi di sini strategis dan jumlah pengunjung terus bertambah setiap hari. Saya mulai berjualan sejak pukul 15.00 WIB, biasanya ramai sekitar pukul 17.00 WIB, lalu aktivitas jual beli perlahan menurun hingga berakhir saat azan magrib berkumandang.” ujarnya

Waktu dua jam sebelum magrib menjadi momen paling sibuk. Pembeli berdatangan dengan daftar belanja di tangan, sebagian lainnya hanya mengandalkan insting dan selera. Banyak yang membeli lebih dari satu jenis takjil, seolah ingin memastikan meja berbuka di rumah penuh dengan pilihan.

Namun, di balik ramainya pembeli, ada tantangan yang harus dihadapi. Neneng mengaku cuaca menjadi faktor utama yang memengaruhi penjualan. Hujan deras dapat menghentikan aktivitas jualan secara tiba-tiba. Lapak-lapak harus segera ditutup, pembeli berlarian mencari tempat berteduh, dan dagangan berisiko tidak habis terjual. Sebaliknya, cuaca terlalu panas juga membawa persoalan tersendiri. Produk puding yang ia jual harus tetap dalam kondisi dingin agar kualitasnya terjaga. Ia harus memastikan es batu dan pendingin cukup hingga waktu berbuka tiba.

Meski demikian, Neneng menegaskan bahwa kenaikan harga bahan pokok tidak membuatnya menurunkan kualitas produk maupun menaikkan harga jual. Ia memilih mempertahankan kualitas demi menjaga kepercayaan pelanggan, sekaligus mengandalkan peningkatan omzet dari ramainya pengunjung untuk memperoleh keuntungan. Baginya, kepercayaan pelanggan adalah modal jangka panjang yang jauh lebih berharga daripada keuntungan sesaat.

Keputusan itu bukan tanpa perhitungan. Dalam situasi harga bahan baku yang fluktuatif, banyak pedagang memilih menyesuaikan harga. Namun Neneng mengambil jalan berbeda. Ia yakin bahwa konsistensi rasa dan kualitas akan membuat pembeli kembali lagi, bahkan merekomendasikan kepada orang lain. Ramadan, menurutnya, bukan hanya tentang mencari untung, tetapi juga tentang menjaga hubungan baik dengan sesama.

Menurutnya, kawasan Balai Buntar dinilai strategis karena memiliki area luas dan fasilitas parkir yang memadai. Lokasi ini awalnya menarik warga untuk berolahraga seperti jogging, lalu berkembang menjadi tempat favorit berbelanja kuliner. Perubahan fungsi ruang ini terjadi secara bertahap. Dari sekadar titik kumpul komunitas olahraga, kini Balai Buntar menjelma menjadi pusat interaksi ekonomi dan sosial.

Popularitasnya juga meningkat setelah promosi di media sosial menjadi viral, sehingga semakin banyak pengunjung tertarik datang. Foto-foto suasana sore hari dengan latar langit jingga dan deretan lapak kuliner beredar luas di berbagai platform. Unggahan tersebut memancing rasa penasaran warga dari berbagai penjuru kota, bahkan luar daerah, untuk datang dan merasakan langsung atmosfernya.

Tak jauh dari lapak Neneng, Edi berdiri di balik gerobak es cendol miliknya. Gelas-gelas plastik tersusun rapi, sementara cendol hijau mengapung di dalam wadah besar berisi santan dan gula merah cair. Minuman sederhana itu selalu menjadi favorit saat berbuka, terutama setelah seharian menahan dahaga.

Pedagang es cendol, Edi, mengatakan dirinya telah berjualan selama tujuh bulan di kawasan Balai Buntar. Ia mengaku omzet penjualannya meningkat selama bulan Ramadan dibandingkan hari biasa. Jika di hari biasa ia menjual dalam jumlah terbatas, selama Ramadan permintaan bisa melonjak drastis.

Ia juga menyebut antusias pengunjung sangat ramai setiap hari menjelang waktu berbuka. Menurutnya, keramaian itu semakin terasa sejak pusat kuliner yang sebelumnya berada di depan kantor RBTV Bengkulu dipindahkan ke lokasi tersebut.

“Selama tujuh bulan saya berjualan di Balai Buntar, omzet meningkat saat Ramadan dibandingkan hari biasa karena pengunjung sangat ramai menjelang berbuka, keramaian semakin terasa sejak pusat kuliner yang sebelumnya berada di depan kantor RBTV Bengkulu dipindahkan ke sini,” ujarnya.

Perpindahan lokasi tersebut ternyata membawa dampak signifikan. Dengan area yang lebih luas dan akses parkir yang lebih tertata, pengunjung merasa lebih nyaman. Pedagang pun memiliki ruang lebih lega untuk menata dagangan. Alhasil, interaksi antara penjual dan pembeli berlangsung lebih lancar.

Menjelang magrib, suasana berubah perlahan. Pembeli yang tadinya sibuk memilih mulai beranjak mencari tempat duduk atau kembali ke rumah. Beberapa keluarga memilih berbuka langsung di sekitar kawasan, menggelar tikar sederhana atau duduk di bangku yang tersedia. Anak-anak membuka bungkusan makanan dengan wajah sumringah, sementara orang tua menyiapkan air minum untuk membatalkan puasa.

Selain memberikan dampak ekonomi bagi para pedagang, keberadaan pusat kuliner Ramadan di Balai Buntar juga membawa suasana kebersamaan bagi masyarakat. Banyak warga datang tidak hanya untuk membeli hidangan berbuka, tetapi juga untuk berkumpul bersama keluarga dan teman sambil menunggu waktu magrib, sehingga kawasan tersebut menjadi ruang sosial yang hidup selama bulan suci.

Di sinilah Ramadan menemukan wajahnya yang lain. Bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga tentang interaksi sosial dan penguatan ekonomi lokal. Pedagang kecil mendapatkan peluang meningkatkan pendapatan, sementara warga memperoleh ruang untuk bertemu dan berbagi cerita.

Balai Buntar pada akhirnya bukan sekadar lokasi jual beli. Ia menjadi simbol bagaimana ruang publik dapat bertransformasi mengikuti kebutuhan masyarakat. Dari tempat berolahraga menjadi pusat kuliner, dari ruang biasa menjadi ruang penuh makna selama Ramadan.

Ketika azan magrib berkumandang, aktivitas jual beli berhenti sejenak. Para pedagang ikut meneguk air atau mencicipi makanan ringan, mengakhiri puasa bersama pembeli yang masih berada di sekitar lapak. Di tengah hiruk pikuk yang perlahan mereda, tersisa rasa syukur dan harapan agar esok hari kembali ramai.

Ramadan mungkin hanya datang setahun sekali, tetapi semangat kebersamaan dan ketahanan ekonomi yang tumbuh di Balai Buntar meninggalkan kesan yang lebih panjang. Ia menunjukkan bahwa di tengah tantangan cuaca dan naiknya harga bahan pokok, optimisme tetap bisa tumbuh—selama ada kerja keras, kreativitas, dan dukungan masyarakat yang terus berdatangan setiap sore.

Share This Article