Batu Runcing Sawahlunto: Destinasi Populer yang Dinanti Kontribusinya bagi Desa Silungkang Oso

salwa
salwa 7 Min Read
dok.suarapancasila.id

Destinasiindonesia.com – Di lereng-lereng alam Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, berdiri sebuah objek wisata yang dalam waktu singkat berhasil menarik perhatian publik. Batu Runcing, yang terletak di Desa Silungkang Oso, Kecamatan Silungkang, hadir dengan lanskap alam yang unik dan karakter bebatuan yang mencolok. Sejak diresmikan pada Februari 2024, kawasan ini perlahan menjelma menjadi magnet baru bagi wisatawan lokal maupun dari luar daerah. Panorama yang tersaji tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga pengalaman menyatu dengan alam yang masih asri.

Setiap akhir pekan, jalan menuju Batu Runcing tampak lebih ramai dari biasanya. Kendaraan pribadi dan rombongan wisatawan bergantian memadati area parkir sederhana di kaki destinasi. Dari sana, pengunjung melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, menyusuri jalur setapak yang mengarah ke gugusan batu besar dengan ujung-ujung runcing yang menjadi ciri khas tempat ini. Dari puncaknya, hamparan hijau perbukitan dan lanskap khas Sawahlunto tersaji tanpa sekat, memberikan sensasi tenang sekaligus kagum bagi siapa pun yang datang.

Namun, di balik geliat wisata yang kian tumbuh itu, tersimpan sebuah cerita lain yang belum sepenuhnya terjawab. Popularitas Batu Runcing yang terus meningkat ternyata belum berbanding lurus dengan manfaat ekonomi yang dirasakan oleh Desa Silungkang Oso sebagai wilayah administratif tempat objek wisata tersebut berada. Keindahan alam yang menjadi kebanggaan bersama itu, hingga kini, belum memberi kontribusi signifikan terhadap pendapatan desa.

Kepala Desa Silungkang Oso, Ferdinal, tak menampik hal tersebut. Saat dikonfirmasi awak media, ia mengungkapkan bahwa desa masih berada pada posisi menunggu, berharap agar keberadaan Batu Runcing dapat memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat setempat. “Kami telah mengajukan permohonan kepada Pemerintah Kota Sawahlunto agar pengelolaan aset wisata ini diserahkan kepada desa, sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” kata Ferdinal.

Menurutnya, persoalan utama terletak pada skema pengelolaan objek wisata Batu Runcing. Saat ini, pengelolaan masih berada di bawah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Batu Runcing, yang dibentuk dan ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto. Skema ini membuat Pemerintah Desa Silungkang Oso tidak memiliki kewenangan langsung dalam pengelolaan, pengambilan keputusan, maupun pengawasan terhadap aktivitas wisata yang berlangsung di kawasan tersebut.

Kondisi itu berdampak pada minimnya ruang koordinasi antara pengelola wisata dengan pemerintah desa. Desa tidak memiliki mekanisme pertanggungjawaban yang jelas terkait pengelolaan objek wisata, mulai dari pengelolaan retribusi, pengembangan fasilitas, hingga pemberdayaan masyarakat sekitar. Akibatnya, potensi ekonomi yang seharusnya dapat menopang pendapatan desa belum dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Untuk itu, kami bermohon kepada Pemerintah Kota Sawahlunto agar segera melakukan proses perubahan surat perjanjian atau kesepakatan terlebih dahulu, sehingga desa dapat merasakan manfaat dari objek wisata ini,” tambah Ferdinal. Ia menegaskan bahwa langkah tersebut bukan semata soal kewenangan administratif, melainkan upaya untuk memastikan bahwa geliat pariwisata benar-benar memberi dampak langsung bagi warga.

Harapan itu bukan tanpa dasar. Desa Silungkang Oso memiliki sumber daya manusia dan sosial yang dinilai siap untuk terlibat aktif dalam pengelolaan wisata. Masyarakat setempat, terutama generasi muda, menunjukkan antusiasme untuk terlibat dalam sektor pariwisata, baik sebagai pemandu, pelaku usaha kecil, maupun pengelola layanan pendukung seperti kuliner dan cendera mata. Dengan pengelolaan yang terintegrasi di tingkat desa, peluang pemberdayaan masyarakat dinilai akan jauh lebih terbuka.

Ferdinal optimistis, jika desa diberi ruang untuk mengelola Batu Runcing, objek wisata ini dapat berkembang menjadi sumber pendapatan asli desa (PADes) yang signifikan. Pendapatan tersebut nantinya dapat dialokasikan kembali untuk pembangunan desa, peningkatan fasilitas umum, hingga program sosial yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. “Kami siap mengelola dan mengembangkan objek wisata ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya dengan nada yakin.

Optimisme itu juga didorong oleh tren pariwisata berbasis desa yang kian berkembang. Dalam beberapa tahun terakhir, wisata alam dan wisata berbasis komunitas menjadi pilihan favorit wisatawan yang mencari pengalaman autentik. Batu Runcing, dengan karakter alamnya yang khas dan letaknya yang strategis, dinilai memiliki modal kuat untuk dikembangkan ke arah tersebut. Desa Silungkang Oso dapat menjadi pintu masuk bagi konsep wisata berkelanjutan yang menempatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama.

Selain aspek ekonomi, pengelolaan oleh desa juga dipandang penting untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dengan keterlibatan langsung masyarakat, upaya pelestarian alam dapat berjalan seiring dengan pengembangan wisata. Desa memiliki kepentingan jangka panjang untuk menjaga agar kawasan Batu Runcing tetap lestari, tidak hanya sebagai sumber pendapatan, tetapi juga sebagai warisan alam bagi generasi berikutnya.

Desa Silungkang Oso sendiri bukan wilayah yang asing dengan potensi wisata. Selain Batu Runcing, kawasan ini memiliki lanskap alam dan budaya lokal yang dapat dikembangkan sebagai paket wisata terpadu. Jika dikelola secara terencana, desa dapat menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya berfokus pada satu titik, tetapi juga menghidupkan aktivitas ekonomi di berbagai sudut wilayah.

Namun, semua potensi itu membutuhkan dukungan kebijakan yang jelas dan keberpihakan pada desa sebagai subjek pembangunan. Bagi Ferdinal, dukungan Pemerintah Kota Sawahlunto menjadi kunci agar pengelolaan wisata dapat berjalan lebih adil dan efektif. Ia berharap ada langkah konkret berupa peninjauan ulang skema pengelolaan, serta pembukaan ruang dialog antara pemerintah kota, desa, dan pihak-pihak terkait lainnya.

“Kami berharap Pemerintah Kota Sawahlunto dapat mendukung upaya kami dalam mengembangkan wisata di desa ini,” tutup Ferdinal. Pernyataan itu mencerminkan harapan besar masyarakat Silungkang Oso agar Batu Runcing tidak hanya dikenal sebagai destinasi indah, tetapi juga sebagai sumber kesejahteraan yang nyata.

Ke depan, Batu Runcing berada di persimpangan penting. Di satu sisi, ia telah membuktikan diri sebagai objek wisata yang diminati. Di sisi lain, tantangan pengelolaan dan distribusi manfaat masih menunggu solusi. Jika sinergi antara pemerintah daerah dan desa dapat terwujud, Batu Runcing berpeluang menjadi contoh bagaimana pariwisata dapat tumbuh selaras dengan kepentingan masyarakat lokal.

Cerita Batu Runcing pada akhirnya bukan hanya tentang bebatuan tajam yang menjulang indah di alam Sawahlunto. Ia juga tentang harapan sebuah desa untuk berdaulat atas potensinya sendiri, tentang keinginan masyarakat agar keindahan alam yang mereka jaga dapat kembali memberi manfaat bagi kehidupan sehari-hari. Di sanalah esensi pembangunan pariwisata yang sesungguhnya diuji—bukan sekadar mendatangkan pengunjung, tetapi memastikan bahwa setiap geliat wisata membawa dampak nyata bagi mereka yang hidup di sekitarnya.

Share This Article