Kunjungan Wisata Meningkat, Okupansi Hotel di Kalimantan Timur Ikut Terdongkrak

salma
salma 6 Min Read
dok. RRI.co.id

 

Destinasiindonesia.com |– Perkembangan sektor pariwisata Kalimantan Timur pada awal tahun 2026 menunjukkan tren yang semakin menggembirakan. Berbagai indikator memperlihatkan adanya peningkatan aktivitas perjalanan masyarakat, baik untuk tujuan wisata, bisnis, maupun kunjungan keluarga. Kondisi ini turut mendorong permintaan terhadap jasa transportasi dan akomodasi di sejumlah daerah tujuan wisata unggulan di provinsi tersebut.

Peningkatan mobilitas masyarakat tercermin dari ramainya arus wisatawan ke destinasi-destinasi favorit, terutama kawasan wisata bahari yang selama ini menjadi andalan Kalimantan Timur. Wisata laut dinilai masih memiliki daya tarik kuat, tidak hanya bagi wisatawan domestik, tetapi juga wisatawan mancanegara yang mencari pengalaman wisata alam yang autentik.

Ketua Tim Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur, Ariyanti Cahyaningsih, menyampaikan bahwa sektor wisata bahari tetap menjadi salah satu motor penggerak utama pariwisata daerah. Salah satu destinasi yang konsisten mencatatkan angka kunjungan tinggi adalah Pulau Derawan, yang telah lama dikenal sebagai ikon wisata laut Kalimantan Timur.

“Pulau Derawan mencatat kunjungan lebih dari delapan ribu wisatawan pada puncak libur tahun baru,” kata Ariyanti dalam rilis resmi BPS Kalimantan Timur, Senin 2 Februari 2026.

Tingginya angka kunjungan tersebut menegaskan posisi Pulau Derawan sebagai magnet wisata yang memiliki daya saing kuat, baik dari segi keindahan alam bawah laut, pantai berpasir putih, maupun kelengkapan fasilitas pendukung pariwisata. Selain itu, promosi wisata yang dilakukan secara berkelanjutan serta kemudahan akses transportasi turut berkontribusi terhadap meningkatnya minat wisatawan.

Tidak hanya wisata alam, geliat pariwisata Kalimantan Timur juga diperkuat oleh berbagai kegiatan dan event daerah yang digelar sepanjang akhir 2025 hingga awal 2026. Penyelenggaraan event dinilai mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect), karena tidak hanya menarik pengunjung, tetapi juga menggerakkan sektor ekonomi lainnya seperti perhotelan, kuliner, dan transportasi.

Sepanjang Desember 2025, Kalimantan Timur menjadi tuan rumah sejumlah agenda berskala regional hingga nasional. Beberapa di antaranya adalah Pupuk Kaltim Festival 2025, Road Race Paser Cup 2025, serta Rapat Koordinasi Pengamanan Natal dan Tahun Baru 2025–2026. Kegiatan-kegiatan tersebut mendorong peningkatan arus kunjungan, baik dari dalam maupun luar daerah.

Memasuki Januari 2026, aktivitas pariwisata dan event daerah tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Berbagai kegiatan berskala besar kembali digelar di sejumlah wilayah, seperti peringatan Hari Ulang Tahun ke-69 Provinsi Kalimantan Timur, Pekan Raya Kaltim, pertunjukan tarian massal yang melibatkan ribuan peserta, hingga penganugerahan Arindama dan Arindama Utama sebagai bentuk apresiasi terhadap tokoh dan institusi berprestasi.

Rangkaian kegiatan tersebut memberikan dampak langsung terhadap tingkat hunian hotel, khususnya hotel non-bintang yang umumnya menjadi pilihan utama wisatawan domestik dan peserta kegiatan. Tingkat hunian yang meningkat menunjukkan adanya pergerakan ekonomi yang lebih merata, tidak hanya terpusat pada hotel berbintang, tetapi juga menyentuh pelaku usaha akomodasi skala menengah dan kecil.

Selain sektor perhotelan, permintaan terhadap layanan transportasi darat, laut, dan udara juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Bandara, pelabuhan, serta terminal transportasi mencatat lonjakan aktivitas penumpang seiring meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode libur dan penyelenggaraan berbagai event.

Meski demikian, di tengah tren positif sektor pariwisata, Kalimantan Timur masih menghadapi tantangan pada sektor lain, khususnya perikanan laut. Kondisi cuaca yang kurang bersahabat dalam beberapa waktu terakhir berdampak pada aktivitas nelayan di wilayah perairan Kalimantan Timur.

Cuaca buruk yang disertai gelombang tinggi menghambat nelayan untuk melaut secara optimal. Situasi ini tidak hanya memengaruhi produktivitas nelayan, tetapi juga berdampak pada rantai pasok hasil laut ke pasar-pasar tradisional maupun modern di daerah tersebut.

Ariyanti menjelaskan bahwa kondisi tersebut berimplikasi langsung terhadap ketersediaan ikan laut di pasaran. Beberapa komoditas utama mengalami penurunan pasokan, sementara permintaan masyarakat tetap berada pada level yang tinggi.

“Permintaan tetap tinggi, sementara pasokan menurun, sehingga harga cenderung mengalami peningkatan,” ujarnya.

Ia menambahkan, komoditas ikan tongkol dan ikan layang menjadi dua jenis ikan laut yang paling terdampak akibat kondisi cuaca tersebut. Keterbatasan pasokan membuat harga kedua komoditas ini mengalami kenaikan di sejumlah pasar, terutama di wilayah perkotaan.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pangan, khususnya hasil laut. Upaya diversifikasi pasokan serta penguatan distribusi antarwilayah dinilai perlu terus dilakukan agar fluktuasi harga dapat ditekan.

Secara umum, BPS Kalimantan Timur menilai bahwa awal tahun 2026 memberikan sinyal optimistis bagi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi daerah, terutama dari sektor pariwisata dan jasa. Sinergi antara pengembangan destinasi wisata, penyelenggaraan event, serta perbaikan infrastruktur menjadi kunci dalam menjaga momentum pertumbuhan tersebut.

Dengan potensi alam yang besar, kekayaan budaya lokal, serta dukungan kegiatan berskala regional dan nasional, Kalimantan Timur diharapkan mampu mempertahankan tren positif pariwisata sepanjang 2026. Di sisi lain, perhatian terhadap sektor-sektor pendukung seperti perikanan dan logistik juga perlu diperkuat agar pertumbuhan ekonomi dapat berjalan secara berimbang dan berkelanjutan.

Share This Article