Penutupan kawasan wisata Gunung Bromo selama dua pekan pada 8–20 Agustus 2026 ternyata membawa dampak positif bagi sejumlah destinasi wisata lain di kawasan Bumi Arema. Salah satu yang merasakan efek langsungnya adalah Candi Singosari di Kelurahan Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Selama periode penutupan Bromo, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Candi Singosari mengalami peningkatan cukup signifikan. Kondisi tersebut menunjukkan adanya pola perpindahan wisatawan ketika destinasi utama yang menjadi tujuan perjalanan mereka tidak dapat dikunjungi.
Pengelola Umum Operasional Candi Singosari, Dika Maulana, mengatakan lonjakan wisatawan mancanegara terasa cukup jelas selama Bromo ditutup. Para turis yang sebelumnya menjadikan Bromo sebagai tujuan utama kemudian diarahkan menuju sejumlah destinasi alternatif, termasuk Candi Singosari dan kawasan wisata di Kota Malang.
Kunjungan Wisman Lebih dari Dua Kali Lipat
Dika mengungkapkan, sebelum penutupan Gunung Bromo, jumlah wisatawan mancanegara yang tercatat mengunjungi Candi Singosari berada di angka 122 orang. Namun, dalam periode 8–20 Agustus, jumlah tersebut meningkat menjadi 267 wisatawan.
“Sebelum 8 Agustus lalu, tercatat 122 turis mancanegara. Namun pada 8 sampai 20 Agustus ada 267 wisatawan,” ujar Dika kemarin (25/8).
Kenaikan tersebut menjadi gambaran bahwa penutupan satu destinasi unggulan dapat memberikan efek berantai terhadap objek wisata lain di sekitarnya. Ketika wisatawan telah memiliki jadwal perjalanan menuju Jawa Timur, perubahan rencana tidak selalu membuat mereka membatalkan kunjungan.
Sebaliknya, biro perjalanan dapat mengatur ulang rute dengan memasukkan destinasi alternatif yang masih berada dalam jalur perjalanan. Candi Singosari menjadi salah satu lokasi yang mendapatkan keuntungan dari perubahan pola perjalanan tersebut.
Wisatawan Domestik Ikut Bertambah
Peningkatan kunjungan selama penutupan Bromo tidak hanya terjadi pada wisatawan mancanegara. Wisatawan domestik juga tercatat mengalami penambahan dalam periode yang sama.
Berdasarkan data yang disampaikan Dika, terdapat tambahan 743 wisatawan domestik selama 8–20 Agustus. Angka tersebut turut memperlihatkan bahwa Candi Singosari tetap memiliki daya tarik bagi wisatawan lokal, meskipun lonjakan paling terasa berasal dari turis mancanegara.
Secara keseluruhan, jumlah kunjungan sepanjang Januari hingga 25 Agustus 2026 mencapai ribuan wisatawan. Rinciannya, tercatat 796 turis mancanegara dan 18.940 wisatawan domestik.
”Secara keseluruhan dari Januari sampai kemarin (25/8), tercatat 796 turis mancanegara dan lokal 18.940 wisatawan domestik,” katanya.
Dika menilai kenaikan wisatawan asing selama masa penutupan Bromo cukup berbeda dibandingkan kondisi pada periode lainnya. Biasanya, kunjungan turis mancanegara ke Candi Singosari tidak seramai ketika terdapat limpahan wisatawan dari destinasi populer seperti Bromo.
”Artinya, khusus mancanegara benar-benar meningkat saat Bromo ditutup, lain dari itu sepi,” tambahnya.
Limpahan Wisatawan dari Bromo
Fenomena tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Menurut Dika, sebagian wisatawan mancanegara yang datang ke Candi Singosari merupakan wisatawan yang sebelumnya telah memasukkan Gunung Bromo dalam agenda perjalanan mereka.
Ketika kawasan Bromo ditutup, biro perjalanan kemudian mencari alternatif destinasi agar rangkaian perjalanan wisata tetap dapat berlangsung. Candi Singosari dan kawasan Kajoetangan Heritage di Kota Malang menjadi beberapa pilihan yang kemudian dimasukkan dalam rute perjalanan.
Dika menjelaskan, perubahan rute tersebut menjadi salah satu faktor utama meningkatnya jumlah wisatawan asing di Candi Singosari selama pertengahan Agustus.
“Dialihkan dari Bromo karena ada penutupan, lalu mereka ke Candi Singosari dan ke Kajoetangan Herritage di Malang Kota. Melihat siklus tahunannya, turis mancanegara bakal banyak sampai September nanti,” sebut dia.
Kondisi ini sekaligus memperlihatkan pentingnya keberadaan destinasi pendukung di sekitar kawasan wisata unggulan. Ketika satu destinasi mengalami kendala operasional, objek wisata lain dapat menjadi alternatif untuk menjaga agar aktivitas perjalanan wisata tetap berjalan.
Pola Kunjungan Biasanya Mengikuti Musim Liburan
Dika menyebut lonjakan kunjungan pada Agustus kali ini cukup berbeda dari pola kunjungan normal. Pada umumnya, Candi Singosari akan lebih ramai ketika memasuki periode libur sekolah, libur panjang atau long weekend, serta hari raya keagamaan.
Dengan demikian, peningkatan wisatawan mancanegara pada saat Bromo ditutup menjadi fenomena tersendiri. Faktor eksternal berupa perubahan rute perjalanan wisata memberikan kontribusi besar terhadap jumlah kunjungan.
Situasi tersebut menjadi peluang bagi pengelola destinasi untuk memperkenalkan Candi Singosari kepada wisatawan yang sebelumnya mungkin hanya mengenal Bromo sebagai tujuan utama di Jawa Timur.
Keberadaan candi bersejarah ini memiliki potensi untuk menjadi bagian dari perjalanan wisata budaya, terutama bagi wisatawan yang ingin mengenal jejak sejarah dan peninggalan masa lalu di kawasan Malang Raya.
Karnaval dan Cuaca Jadi Tantangan
Di tengah peningkatan kunjungan, pengelola Candi Singosari juga menghadapi sejumlah tantangan selama Agustus. Salah satunya adalah banyaknya kegiatan karnaval warga yang diikuti dengan penutupan sejumlah ruas jalan.
Kondisi tersebut berpotensi menghambat mobilitas wisatawan yang sedang melakukan perjalanan menuju destinasi. Selain itu, cuaca yang cukup panas juga menjadi faktor lain yang dapat memengaruhi kenyamanan perjalanan.
Dika memperkirakan peningkatan wisatawan mancanegara berpotensi kembali menurun setelah Gunung Bromo kembali dibuka. Sebab, Bromo tetap menjadi salah satu magnet utama yang menjadi tujuan wisatawan ketika berkunjung ke Jawa Timur.
“Apalagi cuaca lagi panas-panasnya begini. Mungkin akan sepi setelah Bromo dibuka lagi,” tandas Dika.
Peluang Memperkuat Destinasi Alternatif
Lonjakan kunjungan Candi Singosari selama penutupan Bromo menjadi pelajaran menarik bagi pengembangan pariwisata di kawasan Malang Raya. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa destinasi alternatif memiliki peluang besar untuk mendapatkan limpahan wisatawan ketika objek wisata utama mengalami penutupan.
Ke depan, potensi tersebut dapat dimanfaatkan dengan memperkuat promosi, meningkatkan fasilitas, serta membangun paket perjalanan yang menghubungkan destinasi alam, sejarah, budaya, dan wisata perkotaan.
Candi Singosari tidak hanya dapat menjadi tujuan tambahan ketika Bromo tidak bisa dikunjungi. Dengan pengelolaan dan promosi yang konsisten, peninggalan bersejarah tersebut berpeluang menjadi destinasi utama yang memiliki daya tariknya sendiri.
Penutupan Bromo selama dua pekan akhirnya memberikan warna berbeda bagi geliat pariwisata Bumi Arema. Di balik keterbatasan akses menuju salah satu ikon wisata Jawa Timur, muncul peluang bagi destinasi lain untuk menunjukkan pesonanya dan mengambil bagian lebih besar dalam perjalanan wisatawan.