Pemerintah terus mencari solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG). Salah satu langkah yang kini mulai dipercepat adalah pengembangan penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif energi yang dinilai lebih murah dan lebih efisien bagi masyarakat.
Upaya tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Menurutnya, pemerintah tengah mendorong pemanfaatan CNG karena memiliki potensi besar untuk menggantikan sebagian penggunaan LPG yang selama ini masih bergantung pada impor.
Dalam keterangannya, Bahlil menjelaskan bahwa hasil kajian pemerintah menunjukkan penggunaan CNG memiliki biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan LPG. Bahkan, selisih penghematannya disebut cukup signifikan.
“CNG itu sudah dilakukan kajian, harganya jauh lebih murah. Kurang lebih sekitar 30 persen lah lebih murah,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima RRI, Kamis, 7 Mei 2026.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai serius melakukan diversifikasi energi rumah tangga dan sektor usaha kecil. Selama ini, LPG menjadi kebutuhan utama masyarakat Indonesia, mulai dari rumah tangga hingga pelaku usaha kuliner. Namun, tingginya impor LPG membuat beban subsidi energi pemerintah terus meningkat dari tahun ke tahun.
Potensi Besar Gas Alam Indonesia
Menurut Bahlil, salah satu keunggulan utama CNG adalah ketersediaan bahan bakunya yang melimpah di Indonesia. Berbeda dengan LPG yang sebagian besar masih harus didatangkan dari luar negeri, CNG memanfaatkan gas alam domestik yang jumlahnya cukup besar dan tersebar di berbagai wilayah.
Ia juga menegaskan bahwa penggunaan CNG akan membantu mengurangi biaya transportasi dan logistik energi karena pasokannya berasal dari dalam negeri.
“Jadi kita tidak melakukan impor, cost trasnportasinya saja sudah bisa mengcover,” ujarnya.
Ketersediaan sumber daya gas alam di Indonesia dinilai menjadi modal penting dalam mempercepat transisi energi nasional. Selain mengurangi ketergantungan impor, penggunaan gas domestik juga diyakini dapat memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.
Indonesia sendiri memiliki sejumlah wilayah penghasil gas alam yang tersebar di berbagai daerah, seperti Jawa, Sumatra, Kalimantan, hingga Papua. Dengan infrastruktur yang terus dikembangkan, pemerintah optimistis distribusi CNG dapat menjangkau lebih banyak wilayah.
Sudah Digunakan di Berbagai Sektor
Bahlil juga menjelaskan bahwa penggunaan CNG sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Dalam skala tertentu, gas kompres tersebut sudah dimanfaatkan oleh berbagai sektor usaha dan layanan publik.
“Dan kalau ditanya apakah sudah perform untuk jalan atau tidak, pada skala yang besar sudah jalan. Di daerah-daerah Jawa kan sudah dipakai CNG. Hotel, restoran, kemudian MBG dapur-dapur MBG sudah pakai itu,” ucapnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa CNG telah terbukti mampu digunakan dalam aktivitas operasional sehari-hari. Penggunaannya di hotel dan restoran menjadi bukti bahwa energi alternatif ini dapat diandalkan untuk kebutuhan komersial yang membutuhkan pasokan energi stabil.
Menariknya, program dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) juga disebut mulai menggunakan CNG. Hal ini memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya mendorong transisi energi di sektor industri besar, tetapi juga pada program-program sosial yang langsung menyentuh masyarakat.
Menekan Impor LPG yang Terus Membengkak
Di sisi lain, pemerintah menyadari bahwa ketergantungan terhadap impor LPG menjadi tantangan serius bagi sektor energi nasional. Produksi LPG dalam negeri terus mengalami penurunan dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan pemerintah saat ini tengah mematangkan pola distribusi CNG agar dapat segera dimanfaatkan masyarakat secara luas.
“Ditargetkan tahun ini bisa dikonsumsi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Laode, percepatan konversi menuju penggunaan gas domestik menjadi langkah penting untuk menekan lonjakan impor energi yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi nasional.
Selama ini, sebagian besar kebutuhan LPG domestik dialokasikan untuk sektor rumah tangga. Tingginya konsumsi masyarakat membuat Indonesia harus mendatangkan pasokan dalam jumlah besar dari luar negeri untuk menutupi kekurangan produksi dalam negeri.
Kondisi tersebut tidak hanya membebani anggaran negara, tetapi juga membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga energi global. Ketika harga minyak dan gas dunia naik, beban subsidi pemerintah ikut meningkat.
Tantangan Infrastruktur dan Distribusi
Meski memiliki potensi besar, pengembangan CNG tetap menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait infrastruktur distribusi. Pemerintah perlu memastikan jaringan distribusi gas dapat menjangkau masyarakat secara merata.
Berbeda dengan LPG yang sudah memiliki sistem distribusi luas hingga tingkat rumah tangga, penggunaan CNG memerlukan dukungan infrastruktur seperti stasiun pengisian, jaringan pipa, hingga alat konversi yang memadai.
Karena itu, pemerintah saat ini fokus mematangkan pola distribusi agar implementasi CNG tidak hanya terbatas di kota-kota besar atau kawasan industri.
Selain infrastruktur, edukasi kepada masyarakat juga menjadi faktor penting. Sebagian masyarakat masih belum familiar dengan penggunaan gas kompres untuk kebutuhan rumah tangga. Padahal, jika dikelola dengan baik, CNG dinilai lebih ekonomis dan ramah lingkungan.
Langkah Menuju Energi yang Lebih Efisien
Pengembangan CNG sebagai alternatif LPG menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menciptakan sistem energi yang lebih efisien dan berkelanjutan. Selain mengurangi impor, penggunaan gas domestik juga dapat membantu menekan emisi karbon dibandingkan bahan bakar fosil lainnya.
Langkah ini sejalan dengan upaya global menuju transisi energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Dengan memanfaatkan sumber daya alam sendiri, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat kemandirian energi nasional.
Jika implementasi distribusi dan infrastrukturnya berjalan sesuai rencana, CNG berpotensi menjadi solusi baru bagi kebutuhan energi masyarakat Indonesia di masa depan. Tidak hanya lebih murah, tetapi juga mampu membantu negara mengurangi ketergantungan pada impor energi yang selama ini menjadi beban besar bagi perekonomian nasional.