Kemenag Gelar Sidang Isbat Awal Dzulhijjah 1447 H, Penentu Iduladha 2026

salma
salma 6 Min Read
dok. rri.co.id

Kementerian Agama kembali menggelar sidang isbat untuk menetapkan awal bulan Dzulhijjah 1447 Hijriah pada Ahad, 17 Mei 2026. Sidang ini menjadi salah satu agenda penting bagi umat Islam di Indonesia karena hasilnya akan menentukan awal bulan Dzulhijjah sekaligus penetapan Hari Raya Iduladha 2026.

Pelaksanaan sidang isbat berlangsung di Auditorium H M Rasjidi Kementerian Agama dengan melibatkan berbagai unsur pemerintah, organisasi Islam, akademisi, hingga pakar astronomi. Seperti tahun-tahun sebelumnya, proses penetapan awal bulan hijriah dilakukan melalui perpaduan metode hisab dan rukyatul hilal agar hasil keputusan dapat diterima secara luas oleh masyarakat.

Sidang isbat bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian penting dalam proses penentuan kalender Islam di Indonesia. Melalui forum ini, pemerintah berusaha menyatukan berbagai hasil pengamatan dan perhitungan astronomi untuk menghasilkan keputusan yang akurat serta memiliki dasar ilmiah dan syariat yang kuat.

“Sidang isbat menjadi forum bersama untuk memadukan hasil hisab dan rukyatul hilal. Guna menetapkan awal Dzulhijjah 1447 H secara akurat dan dapat diterima seluruh umat Islam Indonesia,” kata Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 15 Mei 2026.

Menurut Arsad, sidang isbat tahun ini turut dihadiri berbagai unsur penting, mulai dari duta besar negara sahabat, Komisi VIII DPR RI, BMKG, BRIN, Badan Informasi Geospasial, Majelis Ulama Indonesia (MUI), organisasi masyarakat Islam, akademisi, hingga pimpinan pondok pesantren dari berbagai daerah.

Keterlibatan banyak pihak tersebut menunjukkan bahwa proses penetapan awal Dzulhijjah dilakukan secara terbuka dan melibatkan berbagai elemen yang memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing. Dengan demikian, hasil sidang diharapkan mampu menjadi keputusan bersama yang dapat diterima seluruh umat Islam di Indonesia.

Berdasarkan hasil perhitungan hisab, ijtimak menjelang Dzulhijjah 1447 Hijriah diperkirakan terjadi pada Ahad, 17 Mei 2026 sekitar pukul 03.00.55 WIB. Pada saat proses rukyatul hilal dilakukan, posisi hilal diprediksi sudah berada di atas ufuk di seluruh wilayah Indonesia.

Ketinggian hilal diperkirakan berada antara 3 derajat 37 menit 51 detik hingga 6 derajat 54 menit 23 detik. Sementara elongasi bulan dan matahari diperkirakan berkisar antara 8 derajat 58 menit 23 detik hingga 10 derajat 36 menit 52 detik.

Data astronomi tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam proses sidang isbat. Namun demikian, pemerintah tetap melakukan rukyatul hilal secara langsung di berbagai daerah sebagai bentuk verifikasi lapangan terhadap hasil hisab yang telah dihitung sebelumnya.

Untuk mendukung akurasi pengamatan, Kementerian Agama melakukan pemantauan hilal di 88 titik yang tersebar dari Aceh hingga Papua Barat. Lokasi rukyat dipilih di berbagai tempat strategis seperti observatorium, pantai, rooftop gedung, menara pemantauan, hingga masjid yang dinilai memiliki posisi ideal untuk melihat hilal.

“Pemantauan hilal dilakukan secara luas di berbagai wilayah Indonesia. Agar hasil rukyat yang diperoleh semakin akurat dan dapat menjadi dasar pengambilan keputusan dalam sidang isbat,” ujar Arsad.

Di wilayah Aceh, pengamatan hilal dilakukan di beberapa lokasi seperti Observatorium Tgk. Chiek Kuta Karang di Lhoknga, Km 0 Sabang, hingga Pantai Lhok Geulumpang di Aceh Jaya. Sementara di Sumatra Barat, titik pemantauan tersebar di berbagai daerah mulai dari Bukittinggi, Solok, hingga Pesisir Selatan.

Wilayah Jakarta juga menjadi salah satu pusat rukyatul hilal dengan sejumlah titik pemantauan seperti Kanwil Kemenag DKI Jakarta, Masjid Raya Hasyim Asy’ari, serta Rumah Falak Pondok Labu di Jakarta Selatan.

Sementara itu di Jawa Barat, pengamatan hilal dilakukan di beberapa titik seperti Pangandaran, Sukabumi, hingga Subang. Sedangkan di Jawa Tengah, proses rukyat melibatkan observatorium dan pantai yang tersebar di Semarang, Jepara, Banyumas, hingga Purworejo.

Di kawasan timur Indonesia, pengamatan juga dilakukan di berbagai daerah seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Hal ini dilakukan untuk memastikan seluruh wilayah Indonesia memiliki kesempatan yang sama dalam melakukan observasi hilal.

Keberadaan puluhan titik rukyat tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjaga akurasi penentuan awal bulan hijriah. Selain itu, proses ini juga menjadi bentuk sinergi antara pendekatan ilmiah modern dan metode rukyat yang telah lama digunakan dalam tradisi Islam.

Penetapan awal Dzulhijjah memiliki arti penting bagi umat Islam karena berkaitan langsung dengan pelaksanaan Hari Raya Iduladha dan ibadah kurban. Selain itu, awal Dzulhijjah juga menjadi penanda dimulainya rangkaian ibadah haji di Tanah Suci.

Bagi masyarakat Indonesia, hasil sidang isbat selalu dinantikan setiap tahunnya. Tidak hanya sebagai informasi penanggalan keagamaan, keputusan tersebut juga menjadi pedoman pelaksanaan ibadah bersama secara nasional.

Dengan semakin berkembangnya teknologi astronomi, proses hisab kini dapat dilakukan dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Namun demikian, rukyatul hilal tetap menjadi bagian penting dalam tradisi penetapan kalender hijriah di Indonesia.

Perpaduan antara hisab dan rukyat dinilai menjadi pendekatan terbaik untuk menjaga keseimbangan antara sains dan tradisi keagamaan. Oleh sebab itu, sidang isbat tetap menjadi forum utama dalam menentukan awal bulan Islam secara resmi di Indonesia.

Hasil sidang isbat awal Dzulhijjah 1447 Hijriah nantinya akan diumumkan secara resmi oleh Kementerian Agama setelah seluruh proses pemantauan hilal selesai dilakukan. Keputusan tersebut sekaligus akan menjadi dasar penetapan Hari Raya Iduladha 2026 bagi umat Islam di Tanah Air.

Share This Article