Bali di Ujung Evaluasi: Gibran Kumpulkan 74 Pelaku Wisata, Soroti Sampah hingga Tiket Pesawat

salwa
salwa 8 Min Read
dok.kemenpar.go.id

Destinasiindonesia.com – Di sebuah pagi yang hangat di Pulau Dewata, suasana di Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Bali terasa berbeda. Aula dipenuhi wajah-wajah yang tak asing dengan dinamika industri pariwisata: pengelola hotel, pelaku UMKM, asosiasi travel, hingga perwakilan pemerintah daerah. Total 74 pelaku usaha hadir, membawa harapan, catatan, sekaligus keresahan yang selama ini mereka rasakan di lapangan.

Di tengah forum itu, hadir Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, didampingi Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dan Menteri UMKM Maman Abdurrahman. Pertemuan ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia menjadi ruang temu antara kebijakan dan realitas, antara target pemerintah dan pengalaman para pelaku usaha di garis depan.

Pertemuan tersebut secara khusus membahas Bali—destinasi yang selama ini menjadi ikon sekaligus barometer pariwisata nasional. Jika pada Januari lalu pemerintah telah menggelar rapat koordinasi yang membahas pariwisata secara nasional, kali ini fokusnya dipersempit.

“Jadi kemarin (bulan Januari) kita sudah rakor, tapi itu untuk pariwisata secara nasional. Hari ini khusus membahas Bali. Untuk itu hari ini kita undang teman-teman dari asosiasi yang bekerja dan fokus di sektor pariwisata,” kata Wakil Presiden Gibran dalam acara Silaturahmi Wakil Presiden RI dengan Pelaku Usaha Sektor Pariwisata di Poltekpar Bali, Jumat (13/2/2026).

Kalimat tersebut membuka diskusi yang lebih tajam dan kontekstual. Bali memang bukan sekadar destinasi wisata; ia adalah etalase Indonesia. Dari total sekitar 15 juta wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia, hampir 45 persen di antaranya masuk melalui Bali. Artinya, kesan pertama tentang Indonesia—baik atau buruk—sering kali ditentukan di pulau ini.

“Jadi, Bali ini adalah wajah Indonesia. Bali ini adalah kesan pertama Wisman saat tiba di Indonesia. Ini harus kita jaga baik-baik,” kata Wapres Gibran.

Ungkapan itu bukan hiperbola. Ia adalah pengingat bahwa setiap detail—dari kebersihan pantai, kelancaran transportasi, hingga keramahan layanan—mencerminkan kualitas bangsa di mata dunia.

Dalam forum tersebut, pelaku usaha tak segan menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi. Isu pengembangan infrastruktur dan destinasi di 10 destinasi prioritas kembali mencuat. Infrastruktur yang belum merata, akses jalan yang perlu perbaikan, hingga kebutuhan pengembangan fasilitas penunjang menjadi topik hangat.

Selain itu, peningkatan keselamatan wisata juga menjadi perhatian. Para pelaku usaha menekankan pentingnya pelatihan dan identifikasi kompetensi bagi tenaga kerja pariwisata. Industri ini bukan lagi sekadar soal pemandangan indah, tetapi juga standar keselamatan dan profesionalisme yang diakui secara global.

Masalah perizinan pun tak luput dari sorotan. Proses yang dianggap masih berbelit dan memakan waktu menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha yang ingin berekspansi atau meningkatkan kualitas layanan. Dan tentu saja, satu isu yang hampir selalu muncul dalam diskusi tentang Bali: penanganan sampah.

Gunungan sampah di sejumlah titik, termasuk di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung, menjadi simbol bahwa pertumbuhan wisata yang pesat perlu diimbangi dengan tata kelola lingkungan yang lebih serius. Tanpa solusi konkret, citra Bali sebagai destinasi kelas dunia bisa tergerus oleh persoalan klasik yang tak kunjung tuntas.

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Wakil Presiden Gibran menegaskan pentingnya sinergi. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Industri pariwisata adalah ekosistem yang kompleks, di mana kebijakan, investasi, dan operasional saling berkaitan.

“Segera kita tindak lanjuti masalah sampah, masalah air, masalah sertifikasi, animal welfare, masalah infrastruktur. Kita ingin ke depan target-target pariwisata juga kita tinggikan terus. Ini kemarin tercapai, tapi harus bisa mengalahkan negara-negara tetangga. Ini PR-nya masih banyak Bapak/Ibu. Jadi terima kasih sekali untuk masukannya,” kata Wakil Presiden Gibran.

Pernyataan tersebut mencerminkan ambisi sekaligus tantangan. Indonesia tidak hanya ingin pulih dari dampak pandemi, tetapi juga ingin melampaui capaian sebelumnya. Kompetisi di kawasan Asia Tenggara semakin ketat. Negara-negara tetangga terus berinovasi dalam promosi, infrastruktur, hingga kemudahan akses.

Momentum Kuartal I 2026 pun menjadi perhatian khusus. Rentetan hari libur panjang—mulai dari Natal dan Tahun Baru (Nataru), Imlek, hingga menjelang Lebaran dan libur sekolah—disebut sebagai “momentum emas” yang harus dimaksimalkan. Pergerakan wisatawan domestik dan mancanegara di periode ini berpotensi mendongkrak angka kunjungan sekaligus perputaran ekonomi lokal.

Di sisi kebijakan, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan apresiasinya atas keterbukaan para pelaku usaha. Forum seperti ini, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam merumuskan kebijakan yang lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan lapangan.

“Kami berharap pandangan yang disampaikan dapat menjadi fondasi penguatan kebijakan untuk pengembangan pariwisata Indonesia yang semakin maju, berdaya saing, dan berkelanjutan,” kata Menteri Widiyanti.

Kata “berkelanjutan” menjadi kunci. Pariwisata modern tak lagi hanya mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga kualitas dan dampaknya terhadap lingkungan serta masyarakat lokal. Bali, dengan segala keindahan alam dan kekayaan budayanya, harus dijaga agar tidak menjadi korban dari kesuksesannya sendiri.

Terkait persoalan sampah, pemerintah tengah menyiapkan solusi berbasis teknologi melalui instalasi pengolahan sampah Waste to Energy (WtE) di tiga daerah, termasuk Bali. Program ini dijadwalkan mulai berproses pada Maret 2026. Harapannya, sampah tidak lagi hanya menjadi beban, tetapi bisa diolah menjadi energi yang bermanfaat.

“Kami harap Pak Gubernur jangan menutup dulu TPA Suwung, sampai program Waste to Energy benar-benar jalan,” kata Menteri Pariwisata menjawab keluhan para pelaku pariwisata di Bali.

Pernyataan tersebut menggambarkan pendekatan transisi: menahan diri dari langkah drastis sebelum solusi pengganti benar-benar siap. Ini penting agar operasional pariwisata tidak terganggu, sekaligus memastikan penanganan sampah berjalan lebih sistematis.

Selain isu lingkungan, harga tiket pesawat domestik yang tinggi juga menjadi perhatian. Tingginya biaya transportasi kerap dikeluhkan wisatawan, terutama di musim liburan. Untuk itu, pemerintah menetapkan sejumlah insentif, termasuk diskon tiket pesawat domestik kelas ekonomi sebesar 17 hingga 18 persen. Tak hanya itu, tersedia pula diskon tiket kereta api 30 persen, diskon tiket kapal laut 30 persen, serta pembebasan tarif jasa pelabuhan angkutan penyeberangan.

Langkah ini diharapkan mampu mendorong mobilitas wisatawan domestik, memperkuat konektivitas antardaerah, dan pada akhirnya meningkatkan okupansi hotel serta kunjungan ke destinasi wisata.

Menteri Pariwisata pun menegaskan bahwa seluruh masukan yang disampaikan tidak akan berhenti di ruang diskusi. Ia berkomitmen untuk menindaklanjutinya melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga.

“Diharapkan sinergi pusat-daerah, dunia usaha, serta pelaku wisata dan UMKM untuk kemajuan pariwisata nasional,” kata Menteri Pariwisata.

Di balik rangkaian pernyataan dan kebijakan tersebut, ada satu benang merah yang jelas: pariwisata bukan sekadar sektor ekonomi, melainkan wajah dan identitas bangsa. Bali menjadi simbolnya, tetapi tantangan dan peluangnya mencerminkan kondisi nasional.

Pertemuan di Poltekpar Bali itu menunjukkan bahwa pemerintah berupaya membuka ruang dialog yang lebih intens. Para pelaku usaha tidak lagi hanya menjadi objek kebijakan, tetapi mitra yang suaranya didengar. Di tengah kompetisi global dan dinamika domestik, pendekatan kolaboratif menjadi kunci.

Ke depan, pekerjaan rumah memang masih banyak. Infrastruktur harus terus diperbaiki, standar keselamatan ditingkatkan, tata kelola sampah dibenahi, dan biaya transportasi ditekan. Namun, dengan sinergi yang kuat dan komitmen bersama, pariwisata Indonesia—dengan Bali sebagai wajahnya—berpeluang tidak hanya bangkit, tetapi juga melesat lebih tinggi.

Karena pada akhirnya, setiap wisatawan yang tiba dan tersenyum puas, membawa pulang cerita tentang Indonesia. Dan cerita itulah yang menjadi promosi paling kuat, melampaui angka statistik dan target tahunan.

Share This Article