Penguatan Rupiah Berlanjut, BI Siap Intervensi Hadapi Gejolak Pasar Global

salma
salma 6 Min Read
dok. rri.co.id

Nilai tukar rupiah berhasil melanjutkan penguatan hingga penutupan perdagangan pada Rabu, 13 Mei 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat naik 0,30 persen atau sekitar 53 poin menjadi Rp17.475 per dolar Amerika Serikat (AS).

Penguatan ini memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan domestik setelah sebelumnya rupiah sempat tertekan hingga menembus level Rp17.500 per dolar AS. Meski demikian, kondisi pasar global masih dinilai rapuh akibat berbagai ketidakpastian geopolitik dan tekanan ekonomi internasional.

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan rupiah terjadi di tengah sentimen global yang masih penuh tekanan, terutama terkait situasi di kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, ketidakpastian mengenai Selat Hormuz serta belum jelasnya prospek perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi perhatian utama pelaku pasar global.

“Harga bahan bakar menjadi mahal sehingga indeks harga konsumen secara bulanan di bulan April naik 0,6 persen. Sedangkan secara tahunan inflasi naik menjadi 3,8 persen, tertinggi sejak pertengahan 2023,” kata Ibrahim, Rabu, 13 Mei 2026.

Kondisi tersebut menunjukkan dampak dari meningkatnya harga energi dunia yang dipicu ketegangan geopolitik. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur penting distribusi minyak dunia sehingga setiap ketidakstabilan di kawasan tersebut dapat langsung memengaruhi harga energi global.

Inflasi AS Jadi Perhatian Pasar

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menyoroti perkembangan inflasi di Amerika Serikat. Kenaikan harga bahan bakar dinilai mulai memberi tekanan terhadap ekonomi AS dan memengaruhi arah kebijakan moneter global.

Ibrahim menjelaskan pasar saat ini tengah menunggu data Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat. Data tersebut dianggap penting karena dapat memberikan gambaran mengenai tekanan inflasi di tingkat produsen.

Jika inflasi masih tinggi, maka peluang penurunan suku bunga oleh bank sentral AS atau The Fed diperkirakan akan semakin kecil.

“Pada saat yang sama, pelaku pasar telah mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga tahun ini,” ucap Ibrahim.

Kondisi tersebut membuat pasar keuangan global bergerak lebih hati-hati. Investor cenderung menunggu arah kebijakan suku bunga AS karena keputusan The Fed sangat memengaruhi pergerakan nilai tukar dan arus modal dunia.

Jika suku bunga AS tetap tinggi dalam waktu lama, dolar AS biasanya akan tetap kuat sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Pertemuan Trump dan Xi Jinping Jadi Sorotan

Pasar global juga menaruh perhatian pada agenda pertemuan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, yang dijadwalkan berlangsung pada 14-15 Mei 2026 di Beijing.

Pertemuan kedua pemimpin negara tersebut diperkirakan akan membahas berbagai isu strategis yang memengaruhi ekonomi global.

Beberapa topik utama yang diprediksi menjadi pembahasan antara lain ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok, konflik Iran, isu Taiwan, hingga rantai pasokan global.

Pelaku pasar berharap pertemuan tersebut dapat menghasilkan sinyal positif yang mampu meredakan ketidakpastian global. Sebab hubungan antara AS dan Tiongkok memiliki pengaruh besar terhadap perdagangan internasional dan stabilitas ekonomi dunia.

Jika ketegangan kedua negara mereda, sentimen pasar global berpotensi membaik dan mendukung penguatan aset-aset di negara berkembang.

Utang Pemerintah Jadi Sorotan

Selain faktor eksternal, Ibrahim juga menyoroti kondisi utang pemerintah Indonesia yang terus meningkat. Hingga akhir Maret 2026, total utang pemerintah disebut hampir menyentuh angka Rp10.000 triliun.

Meski demikian, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada di level 40,75 persen.

Angka tersebut masih berada di bawah batas aman yang ditetapkan dalam Undang-Undang Keuangan Negara, yakni maksimal 60 persen dari PDB.

Pemerintah pun menegaskan bahwa rasio utang Indonesia masih relatif terkendali dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan.

Sebagai perbandingan, rasio utang pemerintah Singapura disebut mencapai sekitar 180 persen dari PDB. Sementara rasio utang Malaysia berada di kisaran 60 persen dari PDB.

Meski masih dalam batas aman, peningkatan utang tetap menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas fiskal Indonesia dalam jangka panjang.

BI Siap Lakukan Intervensi Pasar

Di tengah tekanan global yang masih tinggi, Bank Indonesia atau BI menyatakan akan terus melakukan intervensi pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Langkah tersebut tetap dilakukan meskipun memasuki periode libur panjang akhir pekan.

Intervensi pasar biasanya dilakukan melalui pasar valuta asing maupun pembelian surat berharga negara untuk menjaga kestabilan pergerakan rupiah agar tidak mengalami volatilitas berlebihan.

Kebijakan tersebut menunjukkan komitmen Bank Indonesia dalam menjaga kepercayaan pasar dan stabilitas sistem keuangan nasional.

Dalam beberapa waktu terakhir, tekanan terhadap rupiah memang cukup besar akibat kombinasi sentimen global seperti ketegangan geopolitik, harga minyak tinggi, dan ketidakpastian arah suku bunga AS.

Namun penguatan rupiah pada perdagangan kali ini memberikan sedikit ruang optimisme bahwa pasar domestik masih memiliki daya tahan di tengah kondisi global yang belum stabil.

Prospek Rupiah Masih Dipengaruhi Sentimen Global

Meski rupiah berhasil menguat, pelaku pasar diperkirakan tetap berhati-hati dalam beberapa hari ke depan. Berbagai agenda ekonomi dan geopolitik global masih akan menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang.

Perkembangan inflasi AS, kebijakan The Fed, kondisi harga energi dunia, hingga hasil pertemuan Trump dan Xi Jinping akan terus dipantau investor global.

Di sisi domestik, langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia serta kondisi fiskal pemerintah juga akan menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap rupiah.

Dengan kondisi pasar yang masih dinamis, pergerakan rupiah diperkirakan tetap fluktuatif. Namun penguatan yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa pasar domestik masih mampu bertahan di tengah tekanan global yang belum mereda sepenuhnya.

Share This Article