Revitalisasi SMP Maritim Mola Wakatobi Perkuat Akses Pendidikan Berkualitas

salma
salma 7 Min Read
dok. rri.co.id

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas hingga ke wilayah terdepan, terluar, dan pesisir Indonesia. Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang kini telah memberikan dampak positif bagi sekolah-sekolah di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Program tersebut tidak hanya memperbaiki kondisi fisik bangunan sekolah, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan mendukung proses pembelajaran. Dengan fasilitas yang semakin memadai, peserta didik diharapkan dapat belajar dengan lebih tenang sekaligus memperoleh kesempatan pendidikan yang setara dengan daerah lain di Indonesia.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa revitalisasi sekolah merupakan bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam memastikan setiap anak Indonesia memperoleh akses pendidikan yang layak tanpa memandang lokasi geografis.

Wujud Nyata Pemerataan Pendidikan

Menurut Abdul Mu’ti, pemerintah terus berupaya menghadirkan pemerataan pendidikan melalui pembangunan dan perbaikan sarana pendidikan di berbagai daerah, termasuk wilayah kepulauan seperti Wakatobi.

Ia menilai sekolah yang memiliki fasilitas memadai akan memberikan pengalaman belajar yang lebih baik sekaligus meningkatkan semangat peserta didik dalam menuntut ilmu.

“Revitalisasi satuan pendidikan ini adalah wujud nyata kehadiran negara untuk menghadirkan keadilan akses pendidikan yang bermutu. Sekolah harus menjadi tempat yang paling dirindukan dan menyenangkan bagi siswa untuk menuntut ilmu,” kata Mu’ti, Rabu, 1 Juli 2026. Seperti Dilansir rri.co.id

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada peningkatan kualitas pembelajaran, tetapi juga memastikan lingkungan sekolah mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik.

SMP Swasta Maritim Mola Rasakan Dampak Revitalisasi

Salah satu sekolah yang merasakan manfaat langsung dari program tersebut adalah SMP Swasta Maritim Mola di Kabupaten Wakatobi.

Sebelum mendapatkan revitalisasi, kondisi sekolah dinilai cukup memprihatinkan. Berbagai kerusakan pada bangunan mengganggu kenyamanan proses belajar mengajar. Atap ruang kelas mengalami kebocoran, lantai mulai rapuh, sementara sebagian struktur bangunan yang masih menggunakan material kayu menunjukkan tanda-tanda pelapukan akibat usia dan kondisi lingkungan pesisir.

Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif bagi para siswa.

Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, kondisi sekolah kini mengalami perubahan signifikan sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan lebih baik.

Lingkungan Belajar Aman untuk Wilayah Kepulauan

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Pendidikan Nonformal, dan Informal (PAUD, Dikdas, dan PNFI) Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, mengatakan revitalisasi sekolah merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman, terutama bagi sekolah-sekolah di wilayah kepulauan dan pesisir.

Menurutnya, pembangunan fasilitas pendidikan di daerah seperti Wakatobi memiliki makna yang jauh lebih besar dibanding sekadar memperbaiki bangunan sekolah.

“Bagi anak-anak Suku Bajo di Wakatobi, sekolah yang layak bukan sekadar bangunan baru. Melainkan ruang aman dan nyaman untuk menumbuhkan harapan, menjaga identitas kemaritiman, dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Ia menilai sekolah memiliki peran penting dalam membangun masa depan generasi muda tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan oleh masyarakat setempat.

Menyesuaikan Pembelajaran dengan Kehidupan Suku Bajo

Kepala SMP Swasta Maritim Mola, Narto, menjelaskan bahwa lokasi sekolah yang berada di kawasan pesisir dengan mayoritas masyarakat Suku Bajo memberikan tantangan tersendiri dalam penyelenggaraan pendidikan.

Menurutnya, karakteristik kehidupan masyarakat yang sangat dekat dengan laut membuat sekolah harus mampu menghadirkan sistem pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari para siswa.

Sebagian besar peserta didik masih aktif membantu orang tua mereka melaut atau memancing setelah pulang sekolah. Oleh karena itu, pendekatan pendidikan yang diterapkan perlu mempertimbangkan kondisi sosial dan budaya masyarakat pesisir.

“Secara geografis sekolah kami berada di tengah komunitas Suku Bajo di kawasan pesisir. Setelah pulang sekolah, banyak anak-anak yang ikut orang tua mereka melaut atau memancing, karena itu, sekolah juga harus mampu menghadirkan pembelajaran yang adaptif tanpa membuat mereka kehilangan identitas dan tradisi kemaritiman,” ujarnya.

Melalui pendekatan tersebut, sekolah berupaya menciptakan proses pembelajaran yang tetap relevan dengan kebutuhan peserta didik sekaligus menjaga hubungan mereka dengan budaya maritim yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Suku Bajo selama bertahun-tahun.

Anggaran Hampir Rp3 Miliar untuk Perbaikan Sekolah

Dalam pelaksanaan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, SMP Swasta Maritim Mola memperoleh anggaran sekitar Rp2,96 miliar.

Dana tersebut dimanfaatkan untuk membangun berbagai fasilitas baru yang mendukung kegiatan belajar mengajar. Beberapa di antaranya meliputi pembangunan empat ruang kelas baru, ruang perpustakaan, ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), ruang administrasi, serta fasilitas toilet yang lebih layak.

Selain pembangunan gedung baru, program revitalisasi juga mencakup rehabilitasi laboratorium Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) agar kegiatan praktik siswa dapat berlangsung dengan fasilitas yang lebih memadai.

Perbaikan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan pendidikan sekaligus menciptakan lingkungan sekolah yang lebih sehat, aman, dan nyaman bagi seluruh warga sekolah.

Dorong Peningkatan Mutu Pendidikan di Daerah Pesisir

Narto mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, khususnya bagi sekolah-sekolah yang berada di kawasan pesisir dan kepulauan.

Menurutnya, perubahan fasilitas yang kini dimiliki sekolah telah memberikan dampak nyata terhadap kualitas pelayanan pendidikan sekaligus meningkatkan kenyamanan siswa selama mengikuti proses pembelajaran.

Revitalisasi sekolah juga menjadi bukti bahwa pemerataan pembangunan pendidikan tidak hanya difokuskan pada wilayah perkotaan, tetapi juga menjangkau daerah-daerah yang memiliki tantangan geografis lebih besar.

Melalui peningkatan infrastruktur pendidikan, pemerintah berharap seluruh peserta didik di Indonesia memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan potensi mereka.

Ke depan, Program Revitalisasi Satuan Pendidikan diharapkan terus berlanjut sehingga semakin banyak sekolah di wilayah terpencil, pesisir, maupun kepulauan yang dapat menikmati fasilitas pendidikan yang layak. Dengan demikian, upaya menciptakan pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan merata di seluruh Indonesia dapat terus diwujudkan demi membangun generasi penerus bangsa yang unggul.

Share This Article