Indonesia Raih Experiential & Cultural Tourism Award di OTM Mumbai 2026, Pasar India Kian Strategis

salwa
salwa 8 Min Read
dok.kemenpar.go.id

Destinasiindonesia.com – Indonesia kembali menorehkan capaian penting di panggung pariwisata internasional. Di tengah persaingan destinasi global yang semakin ketat, Indonesia berhasil menunjukkan jati dirinya sebagai negara dengan kekayaan pengalaman budaya yang hidup dan beragam. Pengakuan tersebut datang melalui penghargaan “Experiential & Cultural Tourism Award” yang diraih Indonesia dalam ajang Outbound Travel Mart (OTM) Mumbai 2026, yang berlangsung pada 5–7 Februari 2026 di Mumbai, India.

Penghargaan ini bukan sekadar simbol prestasi, melainkan penanda kuat bahwa arah pengembangan pariwisata Indonesia semakin relevan dengan tren global. Dunia kini tidak lagi hanya mencari tempat indah untuk dikunjungi, tetapi pengalaman yang bisa dirasakan, dipelajari, dan dikenang secara personal. Dalam konteks inilah Indonesia tampil menonjol.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Ni Made Ayu Marthini, menegaskan bahwa penghargaan tersebut memiliki makna strategis yang jauh lebih luas. Menurutnya, pengakuan internasional ini sekaligus mencerminkan potensi transaksi pariwisata yang besar dari pasar India, salah satu pasar outbound dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

“Indonesia dinilai mampu menghadirkan pengalaman wisata yang memungkinkan wisatawan tidak hanya berkunjung, tetapi juga mengalami langsung tradisi, praktik lokal, kuliner, kerajinan, interaksi komunitas, storytelling, wellness, hingga wisata spiritual di berbagai destinasi,” kata Made.

Pernyataan tersebut mencerminkan kekuatan utama pariwisata Indonesia: keberagaman yang hidup dan bisa dialami secara langsung. Dari desa adat yang masih menjaga ritual leluhur, hingga destinasi wellness yang memadukan alam, spiritualitas, dan gaya hidup modern, Indonesia menawarkan spektrum pengalaman yang luas dan autentik.

Made juga menyampaikan rasa bangganya atas penghargaan yang diberikan langsung oleh Organizing Committee OTM. Baginya, apresiasi ini merupakan pengakuan atas konsistensi Indonesia dalam mengembangkan pariwisata berbasis pengalaman budaya yang tidak artifisial, melainkan tumbuh dari kehidupan masyarakat itu sendiri. Pendekatan partisipatif ini membuat wisatawan bukan hanya menjadi penonton, tetapi bagian dari cerita destinasi yang mereka kunjungi.

Lebih jauh, Made menilai penghargaan ini sejalan dengan pergeseran besar dalam preferensi wisatawan global. Model mass tourism yang menitikberatkan jumlah kunjungan mulai ditinggalkan, berganti dengan perjalanan yang lebih bermakna, personal, dan imersif. Wisatawan modern ingin pulang dengan cerita, pemahaman, dan koneksi emosional, bukan sekadar foto.

Dalam konteks tersebut, Indonesia dinilai berhasil memposisikan diri sebagai experiential and cultural living destination—sebuah destinasi yang menawarkan kedalaman pengalaman, interaksi nyata dengan kehidupan lokal, serta ruang untuk refleksi dan pembelajaran lintas budaya. Indonesia bukan hanya tempat singgah, melainkan ruang hidup yang terbuka bagi siapa pun yang ingin merasakan dinamika masyarakatnya.

Made menegaskan bahwa capaian ini merupakan validasi atas strategi pemasaran pariwisata Indonesia, khususnya di pasar India. Selama beberapa tahun terakhir, Kemenpar secara konsisten menempatkan pengalaman budaya sebagai inti penawaran. Indonesia tidak dipromosikan semata sebagai destinasi liburan, tetapi sebagai ruang pengalaman yang memungkinkan wisatawan merasakan langsung tradisi, nilai, dan keseharian masyarakat.

“Kami akan terus memperkuat kolaborasi dengan mitra industri untuk menghadirkan pengalaman wisata yang lebih berkualitas dan berkelanjutan,” kata Made.

Komitmen tersebut tercermin dalam kehadiran Indonesia di OTM Mumbai 2026 yang tidak sekadar simbolik. Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara I Kementerian Pariwisata, Dedi Ahmad Kurnia, menjelaskan bahwa pada ajang ini, Kemenpar memfasilitasi partisipasi 30 co-exhibitor atau seller Indonesia. Mereka terdiri atas 20 destination management company (DMC), lima travel agent atau biro perjalanan wisata, dua hotel, dua restoran, serta satu atraksi wisata.

Kehadiran para pelaku industri tersebut memperlihatkan keseriusan Indonesia dalam membangun koneksi bisnis yang konkret. OTM Mumbai bukan hanya ajang pameran, tetapi ruang pertemuan antara penawaran dan permintaan, antara cerita destinasi dan kebutuhan pasar. Hasilnya pun cukup signifikan.

Partisipasi Indonesia menghasilkan potensi transaksi sebesar 6.989.879 dolar AS atau setara Rp117.429.967.200 dengan asumsi kurs Rp16.800 per dolar AS. Selain itu, potensi jumlah wisatawan yang tercatat mencapai 22.781 orang. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pendekatan experiential tourism bukan hanya relevan secara konsep, tetapi juga berdampak nyata secara ekonomi.

Di sela-sela agenda OTM Mumbai 2026, Kemenpar juga memanfaatkan momentum untuk memperkuat jejaring strategis. Sejumlah pertemuan dilakukan dengan mitra industri perjalanan India, antara lain MakeMyTrip, TBO (Travel Boutique Online), Thomas Cook, SOTC Travel Limited, serta Travel Agents Association of India (TAAI). Selain itu, Kemenpar juga berinteraksi dengan Organizing Committee dari SATTE, OTM, dan ITB India.

Tak kalah penting, pertemuan juga dilakukan dengan sejumlah DMC dari kota-kota tier 2 dan tier 3 di India. Wilayah-wilayah ini dinilai memiliki potensi pertumbuhan wisatawan outbound yang besar, seiring meningkatnya kelas menengah dan konektivitas penerbangan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya fokus pada pasar utama, tetapi juga membaca peluang jangka menengah dan panjang.

Menurut Dedi, capaian potensi transaksi serta penguatan jejaring industri selama OTM Mumbai 2026 menjadi indikator kuat tingginya minat pasar India terhadap produk wisata Indonesia. Ketertarikan ini tidak lepas dari kesamaan nilai antara kedua negara, terutama dalam hal spiritualitas, budaya, dan penghargaan terhadap tradisi.

“Kami optimistis potensi transaksi yang tercatat dapat dikonversi menjadi realisasi kunjungan wisatawan India ke Indonesia dalam waktu dekat,” ujarnya.

Optimisme tersebut diperkuat oleh data kunjungan wisatawan India ke Indonesia yang menunjukkan tren positif. India saat ini menjadi salah satu pasar prioritas dengan pertumbuhan yang konsisten. Pada 2025, Indonesia mencatat 734.490 kunjungan wisatawan India, meningkat sekitar 3,4 persen dibandingkan 710.207 kunjungan pada 2024. Meski persentasenya terlihat moderat, pertumbuhan ini memiliki arti penting karena terjadi secara stabil dan berkelanjutan.

Tren tersebut memperkuat keyakinan bahwa India memiliki prospek jangka panjang sebagai sumber wisatawan mancanegara yang strategis bagi Indonesia. Dengan populasi besar, pertumbuhan ekonomi yang kuat, serta minat tinggi terhadap perjalanan berbasis budaya dan spiritual, pasar India memiliki keselarasan alami dengan karakter pariwisata Indonesia.

Melalui partisipasi aktif di OTM Mumbai 2026, Kementerian Pariwisata menegaskan komitmennya untuk terus memperluas penetrasi pasar India. Berbagai inisiatif promosi berkelanjutan disiapkan, mulai dari pameran dagang, sales mission, hingga familiarization trip bagi pelaku industri dan media India. Selain itu, kemitraan strategis dengan agen perjalanan dan platform digital terus diperkuat untuk memastikan aksesibilitas dan visibilitas destinasi Indonesia.

Upaya-upaya tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, tetapi juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis pariwisata yang berkelanjutan. Pendekatan ini menempatkan masyarakat lokal sebagai bagian dari ekosistem, bukan sekadar objek. Dengan demikian, manfaat pariwisata dapat dirasakan lebih merata, sekaligus menjaga kelestarian budaya dan lingkungan.

Dengan pengakuan internasional melalui penghargaan “Experiential & Cultural Tourism Award”, potensi transaksi yang signifikan, serta tren peningkatan kunjungan wisatawan India, posisi Indonesia di peta pariwisata global semakin menguat. Indonesia tampil sebagai destinasi yang mampu menawarkan kombinasi unik antara budaya, alam, petualangan, wellness, dan gaya hidup dalam satu perjalanan yang utuh.

Di tengah perubahan lanskap pariwisata dunia, Indonesia menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan hanya terletak pada keindahan alam, tetapi pada kemampuan menghadirkan pengalaman yang hidup, bermakna, dan berakar pada jati diri bangsa.

Share This Article