Menag Sebut Tingkat Kerukunan Indonesia Capai 87 Persen, Jakarta Jadi Kota Terdamai

salma
salma 6 Min Read
dok. rri.co.id

Kerukunan antarumat beragama di Indonesia kembali mendapat sorotan positif. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa hasil survei terbaru menunjukkan tingkat toleransi dan keharmonisan masyarakat Indonesia berada dalam kategori sangat baik. Bahkan, menurutnya, Jakarta sebagai ibu kota negara dinilai menjadi salah satu kota dengan tingkat kedamaian dan kerukunan tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

Pernyataan tersebut disampaikan Menag saat menghadiri konferensi pers peringatan Syukur 219 Tahun Keuskupan Agung Jakarta yang berlangsung di Gereja Katedral Jakarta pada Sabtu, 9 Mei 2026.

Dalam kesempatan itu, Menag menilai capaian tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia masih mampu menjaga nilai persatuan di tengah keberagaman agama, budaya, dan suku yang dimiliki bangsa ini. Ia menyebut harmoni sosial yang terbangun selama ini merupakan hasil dari semangat toleransi yang terus dirawat bersama oleh seluruh elemen masyarakat.

“Indonesia sangat menggembirakan dalam survei terakhir. Jakarta sebagai ibu kota termasuk salah satu kota terdamai di Asia Tenggara,” katanya dalam konferensi pers ‘Syukur 219 Tahun Keuskupan Agung Jakarta’, Gereja Katedral Jakarta, Jakarta Pusat, Sabtu, 9 Mei 2026.

Menurut Nasaruddin Umar, hasil survei tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan. Meski hidup dalam keberagaman yang sangat luas, masyarakat dinilai mampu menjaga hubungan sosial secara harmonis tanpa mengedepankan perbedaan keyakinan.

Ia menjelaskan bahwa tingkat kerukunan antarumat beragama di Indonesia bahkan mencapai sekitar 87 persen. Angka tersebut dinilai sangat tinggi dan menjadi salah satu indikator positif bahwa toleransi di Indonesia tetap terjaga dengan baik.

“Alhamdulilah kita juga berada dalam tingkat yg tertinggi 87 persennya. Bisa kita lihat karena kita berdiri di atas terowongan silaturahmi antara Istiqlal dan Katedral,” ujarnya.

Pernyataan tersebut merujuk pada keberadaan Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral Jakarta. Kawasan tersebut selama ini dikenal sebagai simbol toleransi dan persaudaraan antarumat beragama di Indonesia.

Terowongan Silaturahmi tidak hanya berfungsi sebagai jalur penghubung fisik antara dua rumah ibadah besar, tetapi juga menjadi simbol kuat mengenai pentingnya hidup berdampingan dalam keberagaman. Kehadirannya mencerminkan semangat kebersamaan yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Indonesia.

Menag menilai kawasan tersebut sebagai representasi nyata bahwa agama seharusnya menjadi jembatan persaudaraan dan kemanusiaan, bukan sumber perpecahan. Karena itu, keberadaan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang berdiri berdampingan dianggap memiliki makna simbolis yang sangat mendalam.

Menurutnya, peringatan Hari Ulang Tahun ke-219 Keuskupan Agung Jakarta bukan sekadar momentum memperingati usia lembaga keagamaan, tetapi juga menjadi pengingat penting tentang nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia menegaskan bahwa rumah ibadah sejatinya bukan hanya tempat menjalankan ritual keagamaan, melainkan juga ruang membangun solidaritas sosial, persaudaraan, dan kemanusiaan. Dalam konteks tersebut, Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, dan berbagai rumah ibadah lainnya memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan masyarakat Indonesia.

Baginya, rumah ibadah merupakan “rumah kemanusiaan” yang mampu menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Melalui semangat toleransi dan kebersamaan, masyarakat Indonesia dinilai memiliki modal sosial yang kuat untuk menjaga stabilitas dan persatuan bangsa.

Suasana peringatan HUT Keuskupan Agung Jakarta juga berlangsung hangat dan penuh nuansa kebersamaan. Berbagai tokoh agama serta masyarakat hadir untuk menunjukkan dukungan terhadap semangat toleransi antarumat beragama di Indonesia.

Sementara itu, Ignatius Suharyo mengatakan bahwa peringatan HUT ke-219 Keuskupan Agung Jakarta menjadi momentum penting untuk mempererat persaudaraan di tengah masyarakat yang majemuk.

Menurutnya, perjalanan panjang Keuskupan Agung Jakarta tidak terlepas dari sejarah kebersamaan bangsa Indonesia yang dibangun di atas nilai toleransi dan gotong royong. Karena itu, semangat kebangsaan dan cinta Tanah Air harus terus dijaga bersama oleh seluruh umat beragama.

“Semoga kebersamaan kita menjadi wujud bersama untuk berbakti kepada Tuhan dan mencintai Tanah Air kita. Tetapi dengan penuh syukur kita bersama-sama ingin berkumpul sebagai warga bangsa ingin bertumbuh sebagai umat beriman,” ucapnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kehidupan beragama dan semangat nasionalisme dapat berjalan beriringan. Keharmonisan antarumat beragama justru menjadi salah satu kekuatan terbesar Indonesia dalam menjaga persatuan di tengah perbedaan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia memang terus mendapat perhatian dunia terkait praktik toleransi antarumat beragama. Meski menghadapi berbagai tantangan sosial dan dinamika global, masyarakat Indonesia dinilai tetap mampu mempertahankan budaya gotong royong serta sikap saling menghormati.

Keberadaan simbol-simbol toleransi seperti Terowongan Silaturahmi juga semakin memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi keberagaman. Banyak pihak menilai langkah tersebut dapat menjadi contoh positif bagi negara lain dalam membangun hubungan harmonis antarumat beragama.

Selain itu, peran tokoh agama juga dinilai sangat penting dalam menjaga suasana damai di tengah masyarakat. Melalui pesan-pesan moderasi dan persaudaraan, para pemimpin agama diharapkan mampu menjadi penghubung yang memperkuat solidaritas sosial di tengah berbagai perbedaan.

Dengan tingkat kerukunan yang tinggi, Indonesia memiliki modal besar untuk terus berkembang sebagai bangsa yang damai dan bersatu. Semangat toleransi yang tumbuh di tengah masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Peringatan HUT Keuskupan Agung Jakarta pun menjadi pengingat bahwa keberagaman bukanlah hambatan, melainkan kekuatan besar yang harus dijaga bersama demi masa depan Indonesia yang harmonis, damai, dan penuh persaudaraan.

Share This Article