Pemerintah terus memperkuat berbagai strategi untuk mempercepat eliminasi kusta di Indonesia. Salah satu langkah yang menjadi fokus utama adalah meningkatkan penemuan kasus secara aktif agar penderita dapat segera memperoleh pengobatan sebelum penyakit berkembang lebih jauh. Upaya ini diyakini mampu memutus rantai penularan sekaligus menekan risiko kecacatan yang masih banyak dialami pasien akibat keterlambatan diagnosis.
Hal tersebut disampaikan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. Menurutnya, semakin cepat seseorang terdeteksi mengidap kusta, semakin besar peluang untuk sembuh tanpa mengalami komplikasi yang dapat memengaruhi kualitas hidup.
Selain mempercepat layanan kesehatan, pemerintah juga berupaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap penyakit kusta. Edukasi yang benar dinilai menjadi bagian penting dalam menghilangkan stigma yang selama ini melekat pada para penyandang kusta.
Deteksi Dini Menjadi Strategi Utama
Menkes Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa penemuan kasus aktif merupakan strategi paling efektif dalam mempercepat eliminasi kusta. Dengan menemukan pasien sedini mungkin, tenaga kesehatan dapat segera memberikan terapi sehingga penularan penyakit dapat dihentikan.
Ia menjelaskan bahwa pasien yang telah terdiagnosis akan memperoleh pengobatan secara gratis sesuai program pemerintah. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak ragu memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada penyakit kusta.
Menurut Menkes, pengobatan yang dimulai sejak tahap awal memberikan peluang kesembuhan yang sangat baik serta mencegah munculnya kecacatan permanen yang sering terjadi akibat keterlambatan penanganan.
“Strateginya satu, temukan sebanyak-banyaknya kasus, lalu segera obati agar penularan berhenti. Semakin banyak ditemukan, semakin banyak pasien disembuhkan,” kata Menkes dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu, 11 Juli 2026.
Kusta Bukan Kutukan
Dalam kesempatan tersebut, Menkes kembali mengingatkan bahwa kusta bukanlah penyakit yang disebabkan oleh hal-hal mistis maupun kutukan. Penyakit ini merupakan infeksi bakteri yang dapat diobati dengan terapi medis yang tersedia di fasilitas kesehatan.
Penjelasan tersebut disampaikan untuk menghapus stigma yang selama bertahun-tahun masih melekat di tengah masyarakat. Tidak sedikit penderita yang memilih menyembunyikan penyakitnya karena takut dijauhi atau didiskriminasi oleh lingkungan sekitar.
Padahal, keterlambatan mencari pengobatan justru meningkatkan risiko penularan kepada orang lain serta memperbesar kemungkinan terjadinya kerusakan saraf yang berujung pada kecacatan.
Karena itu, edukasi kepada masyarakat dinilai sama pentingnya dengan penyediaan layanan kesehatan. Semakin banyak masyarakat memahami bahwa kusta dapat disembuhkan, semakin besar pula peluang pasien memperoleh pengobatan sejak dini.
Ribuan Kasus Baru Ditemukan Setiap Tahun
Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa Indonesia masih menemukan sekitar 14 ribu hingga 15 ribu kasus baru kusta setiap tahunnya. Meski demikian, angka tersebut diperkirakan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya.
Masih adanya stigma sosial menyebabkan sebagian penderita enggan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Akibatnya, sejumlah kasus baru baru diketahui ketika penyakit telah berkembang cukup lama.
Kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi pemerintah dalam mencapai target eliminasi kusta secara nasional. Oleh sebab itu, pendekatan aktif melalui penelusuran kasus di masyarakat terus diperkuat.
Selain melibatkan puskesmas, pemerintah juga mendorong peran kader kesehatan, tenaga medis, hingga pemerintah daerah agar lebih aktif menemukan masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan.
Apresiasi bagi Puskesmas
Sebagai bentuk dorongan terhadap peningkatan deteksi dini, Kementerian Kesehatan berencana memberikan apresiasi kepada puskesmas yang berhasil menemukan kasus kusta terbanyak.
Kebijakan tersebut bukan dimaksudkan untuk menunjukkan tingginya angka penyakit di suatu daerah, melainkan sebagai indikator bahwa fasilitas kesehatan berhasil menjangkau masyarakat yang selama ini belum terdeteksi.
Dengan semakin banyak kasus ditemukan pada tahap awal, pengobatan dapat segera dilakukan sehingga penyebaran penyakit dapat ditekan secara signifikan.
“Kami akan memberi apresiasi kepada puskesmas yang menemukan kasus kusta terbanyak. Harapannya deteksi dini meningkat sehingga eliminasi kusta semakin cepat tercapai,” ujar Budi.
Melalui langkah tersebut, pemerintah berharap seluruh fasilitas kesehatan semakin proaktif melakukan skrining serta edukasi kepada masyarakat, terutama di wilayah yang masih memiliki angka kasus tinggi.
Kolaborasi Lintas Sektor Diperlukan
Upaya percepatan eliminasi kusta juga mendapat perhatian dari Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno.
Dalam Konferensi Nasional Kusta 2026 di Jakarta, ia menegaskan bahwa keberhasilan menghapus kusta tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor kesehatan. Menurutnya, berbagai pihak harus terlibat agar program berjalan lebih efektif.
Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam memperkuat layanan kesehatan, memperluas edukasi masyarakat, hingga memastikan pasien memperoleh pengobatan secara berkelanjutan.
Selain pemerintah daerah, dukungan organisasi masyarakat, tenaga kesehatan, akademisi, dunia pendidikan, serta tokoh masyarakat juga dibutuhkan untuk menghapus stigma terhadap penyandang kusta.
“Penanganan kusta tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan, tetapi memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah daerah memegang peran penting dalam percepatan eliminasi kusta,” kata Pratikno.
Menghapus Stigma untuk Indonesia Bebas Kusta
Selama bertahun-tahun, stigma menjadi salah satu hambatan terbesar dalam penanganan kusta. Banyak penderita terlambat datang ke fasilitas kesehatan karena khawatir mendapatkan perlakuan diskriminatif dari lingkungan sekitarnya.
Padahal, dengan diagnosis yang cepat dan pengobatan yang tepat, kusta dapat disembuhkan sehingga pasien dapat menjalani kehidupan secara normal.
Karena itu, pemerintah terus mengajak masyarakat untuk memahami bahwa kusta adalah penyakit infeksi bakteri yang bisa diobati, bukan penyakit yang harus ditakuti atau dikaitkan dengan kepercayaan tertentu.
Melalui kombinasi deteksi dini, pengobatan gratis, edukasi publik, serta kolaborasi lintas sektor, pemerintah optimistis target eliminasi kusta dapat dicapai lebih cepat. Keberhasilan tersebut tidak hanya akan menurunkan angka penularan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup para penyintas kusta serta menghapus stigma yang selama ini membatasi mereka dalam kehidupan sosial.