Pakar IPB Ingatkan Bahaya Limbah Kurban Jika Tidak Dikelola dengan Tepat

salma
salma 6 Min Read
dok. rri.co.id

Momentum Hari Raya Iduladha selalu identik dengan meningkatnya aktivitas penjualan dan penyembelihan hewan kurban di berbagai daerah. Di balik semangat ibadah dan kebersamaan tersebut, terdapat persoalan lain yang kerap luput dari perhatian masyarakat, yakni pengelolaan limbah kurban. Jika tidak ditangani dengan baik, limbah hasil penjualan maupun penyembelihan hewan dapat menimbulkan pencemaran lingkungan serta gangguan kesehatan.

Karena itu, pakar dari Institut Pertanian Bogor, Salundik, mengingatkan pentingnya penanganan limbah kurban secara tepat dan terencana. Menurutnya, limbah kurban memiliki karakteristik berbeda berdasarkan lokasi dan jenis aktivitasnya sehingga membutuhkan metode pengelolaan yang berbeda pula.

Salundik menjelaskan bahwa secara umum limbah kurban terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu limbah di area penjualan hewan dan limbah di area penyembelihan. Kedua jenis limbah tersebut memiliki tingkat risiko dan penanganan yang tidak sama.

“Limbah di lokasi penjualan umumnya berupa kotoran dan sisa pakan hijauan. Karena ternak dikumpulkan dalam jumlah besar sekitar 20 hari sebelum Iduladha, akumulasinya menjadi sangat masif,” ujar Salundik dalam keterangan tertulis, Selasa, 26 Mei 2026.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penumpukan limbah di lokasi penjualan hewan kurban dapat menjadi persoalan serius jika tidak segera dikelola. Apalagi menjelang Iduladha, jumlah hewan yang ditampung biasanya meningkat tajam dalam waktu singkat.

Limbah Penjualan Bisa Mencapai Puluhan Ton

Menurut Salundik, limbah di area penjualan umumnya berasal dari feses ternak dan sisa pakan hijauan selama masa penampungan hewan. Semakin lama hewan berada di lokasi penjualan, semakin besar pula volume limbah yang dihasilkan.

Ia memberikan gambaran bahwa sekitar 50 ekor sapi dapat menghasilkan hingga 20 ton limbah selama masa penjualan berlangsung. Jumlah tersebut tentu bukan angka kecil, terutama jika lokasi penjualan berada di kawasan padat penduduk atau area dengan sistem sanitasi yang kurang memadai.

Limbah organik seperti kotoran ternak memang berpotensi menimbulkan bau tidak sedap dan mencemari lingkungan apabila dibiarkan menumpuk terlalu lama. Selain itu, kondisi lingkungan yang kotor juga dapat menjadi tempat berkembangnya lalat maupun bakteri yang berisiko mengganggu kesehatan masyarakat sekitar.

Karena itu, pengelolaan limbah sejak masa penjualan hewan dinilai penting agar dampak lingkungan dapat diminimalkan sejak awal.

Limbah Penyembelihan Memiliki Risiko Lebih Tinggi

Selain limbah di area penjualan, limbah penyembelihan hewan kurban juga menjadi perhatian serius. Menurut Salundik, jenis limbah di lokasi penyembelihan memerlukan penanganan khusus karena memiliki risiko kontaminasi yang lebih tinggi dibanding limbah biasa.

“Jenis limbah di area penyembelihan memerlukan penanganan khusus karena risiko kontaminasinya lebih tinggi,” katanya.

Limbah penyembelihan meliputi darah, isi rumen, hingga saluran pencernaan hewan kurban. Jika dibuang sembarangan, limbah tersebut dapat mencemari saluran air, menimbulkan bau menyengat, hingga meningkatkan risiko penyebaran penyakit.

Di beberapa daerah, limbah penyembelihan yang tidak dikelola dengan baik sering kali berakhir di sungai atau saluran drainase. Kondisi tersebut tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga mengganggu kualitas air dan kebersihan kawasan sekitar.

Karena itu, pengelolaan limbah penyembelihan memerlukan perhatian khusus, terutama dalam proses pengumpulan, pemisahan, dan pembuangannya agar tidak mencemari lingkungan.

Limbah Organik Bisa Diolah Jadi Bernilai Ekonomi

Meski kerap dianggap sebagai masalah, Salundik menilai limbah organik dari area penjualan sebenarnya masih memiliki potensi ekonomi jika diolah dengan benar. Ia mendorong masyarakat memanfaatkan limbah ternak menjadi produk yang lebih bermanfaat.

“Feses dan sisa pakan dapat diolah menjadi pupuk organik seperti kompos atau vermikompos. Ini menjadi solusi praktis sekaligus memberikan nilai ekonomi,” ujarnya.

Kompos dan vermikompos merupakan pupuk organik yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian maupun tanaman hias. Pengolahan limbah menjadi pupuk tidak hanya membantu mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga mendukung konsep ekonomi sirkular yang kini mulai banyak diterapkan di berbagai sektor.

Dengan pendekatan tersebut, limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna justru dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomi bagi masyarakat. Selain itu, penggunaan pupuk organik juga dinilai lebih ramah lingkungan dibanding pupuk kimia.

Tantangan Pengelolaan Limbah di Wilayah Perkotaan

Meski memiliki potensi pemanfaatan, pengelolaan limbah kurban di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan, terutama di wilayah perkotaan. Salundik mengakui bahwa keterbatasan lahan menjadi salah satu hambatan utama dalam pengelolaan limbah kurban secara optimal.

Selain itu, jumlah hewan kurban yang tidak pasti setiap tahun membuat proses perencanaan penanganan limbah menjadi lebih sulit. Lokasi penyembelihan yang tersebar di banyak titik juga menambah kompleksitas pengelolaan limbah di lapangan.

Kondisi tersebut menyebabkan sebagian panitia kurban masih kesulitan menyediakan sistem pengelolaan limbah yang memadai, terutama untuk limbah cair dan organik dalam jumlah besar.

Karena itu, menurut Salundik, pengelolaan limbah kurban membutuhkan pendekatan yang lebih terencana dan terkoordinasi antara masyarakat, panitia kurban, pemerintah daerah, serta pihak terkait lainnya.

Mendukung Lingkungan Bersih dan Ekonomi Sirkular

Salundik menilai pengelolaan limbah kurban yang baik tidak hanya membantu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga dapat mendukung praktik ekonomi sirkular berkelanjutan.

Dalam konsep ekonomi sirkular, limbah tidak langsung dibuang, melainkan diolah kembali agar memiliki nilai guna baru. Pendekatan ini dinilai penting untuk mengurangi pencemaran sekaligus menciptakan manfaat ekonomi tambahan bagi masyarakat.

Momentum Iduladha pun bisa menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah yang ramah lingkungan. Dengan sistem yang lebih tertata, kegiatan kurban tidak hanya menjadi ibadah sosial dan spiritual, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kesehatan lingkungan bersama.

Melalui pengelolaan yang tepat, limbah kurban dapat diubah dari persoalan lingkungan menjadi sumber manfaat yang mendukung keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat.

Share This Article