Inovasi Transportasi Bali: Water Taxi Jadi Solusi Kemacetan Kawasan Wisata

salma
salma 6 Min Read
dok. rri.co.id

Destinasiindonesia.com|-Kemacetan lalu lintas di Bali semakin menjadi perhatian seiring meningkatnya jumlah wisatawan dan aktivitas ekonomi, khususnya di kawasan pariwisata utama. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada waktu tempuh perjalanan, tetapi juga memengaruhi kenyamanan wisatawan serta efisiensi mobilitas masyarakat lokal. Oleh karena itu, dibutuhkan inovasi transportasi yang tidak hanya efektif, tetapi juga terintegrasi dan berkelanjutan.

Salah satu solusi yang mulai dikembangkan pemerintah adalah konsep water taxi, yaitu moda transportasi berbasis perairan yang dirancang untuk mengurangi beban lalu lintas darat. Konsep ini dinilai mampu menjadi alternatif yang fleksibel karena memanfaatkan jalur laut yang relatif bebas hambatan dibandingkan jalan raya yang sering mengalami kemacetan.

Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menyampaikan bahwa pengembangan water taxi menjadi bagian dari strategi besar dalam memperkuat konektivitas transportasi terintegrasi di Bali. “Water taxi merupakan solusi alternatif mengintegrasikan transportasi darat laut dan udara guna mengurangi kepadatan lalu lintas kawasan wisata,” ujarnya, dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 8 April 2026.

Secara konsep, water taxi berfungsi layaknya taksi pada jaringan transportasi darat, namun beroperasi di jalur perairan dengan rute jarak pendek. Dengan moda ini, wisatawan dapat berpindah dari satu titik ke titik lain secara lebih cepat tanpa harus terjebak kemacetan panjang di daratan.

Di Bali, pengembangan water taxi direncanakan akan menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan kawasan wisata populer seperti Canggu. Rute ini dikenal sebagai salah satu jalur dengan tingkat kepadatan tinggi, di mana waktu tempuh melalui jalur darat bisa mencapai satu hingga dua jam, terutama saat musim liburan atau jam sibuk.

Dengan adanya water taxi, waktu perjalanan diperkirakan dapat dipangkas secara signifikan menjadi sekitar tiga puluh menit. Efisiensi waktu ini tentu menjadi nilai tambah bagi wisatawan yang ingin memaksimalkan waktu liburan mereka. “Waktu tempuh dari Bandara Ngurah Rai menuju Canggu dapat mencapai satu hingga dua jam sedangkan water taxi maksimal tiga puluh menit,” katanya.

Selain efisiensi, moda transportasi ini juga dinilai lebih ramah lingkungan. Dengan berkurangnya jumlah kendaraan di jalan raya, emisi gas buang dapat ditekan sehingga kualitas udara di kawasan wisata dapat lebih terjaga. Dampak lainnya adalah meningkatnya kenyamanan wisatawan yang tidak lagi harus menghadapi kemacetan panjang.

Namun demikian, implementasi water taxi bukan tanpa tantangan. Dudy menjelaskan bahwa pembangunan infrastruktur pendukung menjadi salah satu aspek penting yang harus dipersiapkan secara matang. Salah satunya adalah pembangunan pelabuhan dengan fasilitas penahan gelombang atau breakwater di beberapa titik strategis. “Pembangunan fasilitas penahan gelombang diperlukan untuk menjamin keselamatan operasional pada perairan dengan kondisi yang cukup dinamis,” ucapnya.

Untuk merealisasikan proyek ini, pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi awal mencapai sekitar Rp1,21 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur, pengadaan armada, serta sistem pendukung lainnya. Dalam pelaksanaannya, proyek ini direncanakan melibatkan PT ASDP Indonesia Ferry sebagai operator utama.

Pengembangan water taxi ditargetkan mulai berjalan pada tahun 2026 hingga 2027 melalui beberapa tahapan, mulai dari studi perencanaan, pembangunan infrastruktur, hingga uji coba operasional sebelum akhirnya digunakan secara luas oleh masyarakat.

Selain inovasi transportasi berbasis perairan, Pemerintah Provinsi Bali juga menyiapkan berbagai proyek infrastruktur strategis untuk mengatasi kemacetan. Gubernur Bali, Wayan Koster, menyampaikan bahwa sejumlah proyek telah dirancang dan akan direalisasikan secara bertahap mulai tahun 2026.

Proyek tersebut mencakup pembangunan jalan baru, fasilitas parkir, serta jembatan penghubung antarwilayah strategis. Salah satu proyek yang diusulkan adalah pembangunan Jalan Underpass Jimbaran sebagai solusi untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di kawasan Bali Selatan. Proyek ini telah disetujui dengan estimasi anggaran sekitar Rp350 miliar.

“Perencanaan Detail Engineering Design (DED) dan Feasibility Study (FS) saat ini sedang dikerjakan oleh Pemerintah Kabupaten Badung dan ditargetkan rampung paling lambat akhir Februari,” ujar Koster.

Setelah tahap perencanaan selesai, proses tender ditargetkan dimulai pada awal April, dengan pelaksanaan utama diperkirakan berlangsung pada pertengahan hingga akhir 2026. Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan anggaran sebesar Rp250 miliar untuk pembangunan gedung parkir di kawasan Pura Batur, Bangli, guna mengurangi kepadatan kendaraan di area wisata tersebut.

Tidak hanya itu, rencana pembangunan jembatan penghubung antara Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan juga menjadi bagian dari strategi peningkatan konektivitas. Proyek ini bertujuan mempermudah akses menuju Nusa Penida yang kini semakin berkembang sebagai destinasi unggulan.

“Cukup banyak infrastruktur strategis yang dibantu oleh Bapak Menteri PUPR untuk Bali pada tahun 2026. Semua ini untuk mengatasi kemacetan dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” ucap Koster.

Menariknya, konsep water taxi sebenarnya bukan hal baru di dunia. Di Venice, transportasi air telah menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat sejak lama. Sementara di Bangkok, layanan perahu di Sungai Chao Phraya menjadi alternatif utama untuk menghindari kemacetan jalan raya. Bahkan di Dubai, water taxi telah dikembangkan menjadi moda transportasi modern yang terintegrasi dengan sistem perkotaan berbasis teknologi.

Di berbagai negara tersebut, water taxi tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi, tetapi juga menjadi daya tarik wisata tersendiri. Pengalaman menikmati perjalanan melalui jalur air sering kali menjadi bagian dari daya tarik destinasi itu sendiri.

Dengan mengadopsi konsep serupa, Bali memiliki peluang besar untuk tidak hanya mengatasi kemacetan, tetapi juga menciptakan ikon wisata baru. Jika dikelola dengan baik, water taxi bisa menjadi solusi transportasi sekaligus pengalaman unik yang memperkaya daya tarik pariwisata Pulau Dewata di mata dunia.

Share This Article