Soroti Kemajuan Vietnam, DPR Dorong Evaluasi Strategi Pariwisata Nasional

salma
salma 7 Min Read
dok. rri.co.id

Sektor pariwisata menjadi salah satu motor penggerak ekonomi yang memiliki peran strategis dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan devisa negara, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Di tengah semakin terbukanya akses perjalanan internasional dan meningkatnya mobilitas wisatawan global, persaingan antarnegara dalam menarik kunjungan wisatawan pun semakin ketat.

Negara-negara di kawasan Asia Tenggara saat ini berlomba-lomba memperkuat sektor pariwisata mereka melalui berbagai strategi, mulai dari promosi destinasi, pengembangan infrastruktur, peningkatan konektivitas transportasi, hingga penyelenggaraan berbagai event berskala internasional.

Dalam situasi tersebut, Indonesia dituntut untuk terus berinovasi dan meningkatkan daya saing agar tetap menjadi salah satu destinasi unggulan di kawasan. Oleh karena itu, pemetaan perkembangan sektor pariwisata negara-negara tetangga dinilai menjadi langkah penting untuk memahami posisi Indonesia di tengah persaingan regional yang semakin dinamis.

DPR Minta Kemenpar Lakukan Pemetaan Pariwisata Negara Tetangga

Komisi VII DPR RI meminta Kementerian Pariwisata (Kemenpar) untuk melakukan pemetaan secara menyeluruh terhadap perkembangan sektor pariwisata negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Langkah ini dianggap penting sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan yang lebih efektif dan tepat sasaran.

Pemetaan tersebut tidak hanya bertujuan mengetahui perkembangan jumlah kunjungan wisatawan atau pendapatan sektor pariwisata negara lain, tetapi juga memahami strategi yang diterapkan oleh negara-negara pesaing dalam meningkatkan daya tarik destinasi mereka.

Dengan adanya data yang komprehensif, pemerintah dapat menyusun langkah-langkah strategis yang mampu meningkatkan posisi Indonesia di pasar pariwisata regional maupun global.

Menurut anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, perkembangan sektor pariwisata di negara-negara sekitar perlu menjadi bahan evaluasi yang serius bagi Indonesia.

“Saya berharap dalam pertemuan berikutnya, Ibu Menteri juga perlu menyampaikan kondisi pesaing-pesaing kita di negara-negara tetangga. Sehingga kita punya ukuran jelas dari anggaran yang ada ini, sebenarnya apa yang kita tuju,” kata Novita dalam rapat kerja bersama Kementerian Pariwisata di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu, 3 Juni 2026.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya memiliki tolok ukur yang jelas dalam menentukan arah pembangunan sektor pariwisata nasional.

Vietnam Jadi Sorotan dalam Persaingan Pariwisata

Salah satu negara yang menjadi perhatian dalam diskusi tersebut adalah Vietnam. Dalam beberapa tahun terakhir, negara tersebut dinilai menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan dalam sektor pariwisata.

Berbagai upaya yang dilakukan Vietnam, mulai dari penguatan promosi internasional, peningkatan kualitas infrastruktur, hingga kemudahan akses bagi wisatawan asing, berhasil meningkatkan daya tarik negara tersebut di mata wisatawan dunia.

Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian bagi Indonesia. Sebagai sesama negara di kawasan Asia Tenggara, Vietnam kini menjadi salah satu kompetitor utama dalam perebutan pasar wisatawan internasional.

Menurut Novita, perkembangan tersebut harus dicermati secara serius agar Indonesia tidak kehilangan momentum dalam menarik wisatawan mancanegara.

Persaingan antarnegara tidak lagi hanya berkaitan dengan keindahan destinasi wisata. Faktor lain seperti kemudahan akses, kualitas pelayanan, keamanan, promosi digital, hingga pengalaman wisata yang ditawarkan juga menjadi pertimbangan utama wisatawan saat menentukan tujuan perjalanan mereka.

Karena itu, evaluasi terhadap strategi negara pesaing menjadi langkah yang sangat penting untuk menjaga daya saing Indonesia.

Anggaran Pariwisata Harus Berorientasi pada Target yang Jelas

Dalam rapat kerja tersebut, Novita juga menekankan pentingnya penggunaan anggaran pariwisata yang terukur dan memiliki tujuan yang jelas.

Menurutnya, setiap program yang dijalankan harus mampu menjawab tantangan yang dihadapi sektor pariwisata nasional. Anggaran yang dialokasikan perlu diarahkan pada program-program yang memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kunjungan wisatawan, pertumbuhan ekonomi daerah, serta penguatan citra Indonesia sebagai destinasi wisata unggulan.

Selain itu, promosi destinasi wisata juga perlu dilakukan secara berkelanjutan. Di era digital saat ini, promosi menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan visibilitas destinasi wisata di pasar global.

Indonesia memiliki kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang sangat besar. Namun tanpa promosi yang tepat dan konsisten, potensi tersebut tidak akan mampu bersaing secara maksimal dengan negara-negara lain yang juga agresif memasarkan destinasi wisatanya.

Konektivitas Jadi Faktor Penentu

Selain promosi dan strategi pemasaran, aspek konektivitas juga menjadi perhatian utama dalam pembahasan sektor pariwisata nasional.

Novita menilai akses transportasi yang memadai memiliki peran penting dalam mendukung pemerataan kunjungan wisatawan ke berbagai daerah di Indonesia. Banyak destinasi wisata potensial yang memiliki daya tarik luar biasa, namun belum mampu berkembang secara optimal karena keterbatasan akses.

Konektivitas yang baik tidak hanya mempermudah perjalanan wisatawan, tetapi juga dapat meningkatkan investasi dan mempercepat pertumbuhan ekonomi di daerah tujuan wisata.

Sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau dan destinasi yang tersebar luas, Indonesia membutuhkan sistem transportasi yang terintegrasi agar wisatawan dapat menjangkau berbagai lokasi dengan lebih mudah dan nyaman.

DPR Minta Evaluasi Berbasis Data

Senada dengan Novita Hardini, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga, juga menekankan pentingnya data dalam mengevaluasi perkembangan sektor pariwisata Indonesia.

Menurutnya, Kementerian Pariwisata perlu menyajikan data perbandingan yang jelas mengenai pertumbuhan sektor pariwisata Indonesia dibandingkan negara-negara lain di kawasan.

Data tersebut akan menjadi dasar penting dalam menilai apakah kebijakan yang telah dijalankan mampu menghasilkan pertumbuhan yang kompetitif atau masih tertinggal dari negara lain.

“Kita butuh data apakah kemudian pertumbuhan yang saat ini dibandingkan 2024-2025, dibanding negara lain. Rasionya itu apa ada pertumbuhan atau mendekati atau tidak,” kata Lamhot.

Melalui pendekatan berbasis data, pemerintah dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan yang dimiliki sektor pariwisata nasional secara lebih objektif.

Sinergi dengan InJourney untuk Tingkatkan Akses Wisata

Dalam kesempatan yang sama, Lamhot juga mendorong Kementerian Pariwisata untuk memperkuat koordinasi dengan InJourney dalam meningkatkan konektivitas penerbangan menuju berbagai destinasi wisata di Indonesia.

Menurutnya, peningkatan akses transportasi udara menjadi salah satu langkah strategis yang dapat memperluas jangkauan wisatawan ke berbagai daerah. Semakin mudah akses menuju destinasi wisata, semakin besar peluang daerah tersebut untuk berkembang dan menarik lebih banyak pengunjung.

Kolaborasi antara pemerintah, operator transportasi, pengelola destinasi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem pariwisata yang kompetitif.

Dengan evaluasi yang berbasis data, pengelolaan anggaran yang tepat sasaran, promosi yang berkelanjutan, serta konektivitas yang semakin baik, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Asia Tenggara dan dunia. Tantangan persaingan regional memang semakin besar, namun dengan strategi yang tepat, sektor pariwisata nasional dapat terus tumbuh dan memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian Indonesia.

Share This Article